Mulai Perubahan Lewat Bisnis Berorientasi Sosial - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Berbagi dan Belajar

Post Top Ad

Mulai Perubahan Lewat Bisnis Berorientasi Sosial


Kegiatan sosial bukan lagi sekedar aktivitas memanfaatkan waktu luang, ajang memperluas pertemanan, atau syarat memperoleh beasiswa luar negri. Selain bagaimana bisa berdampak di masyarakat, kegiatan sosial juga bisa dijadikan sebagai profesi loh. Caranya dengan mengaplikasikan konsep Sociopreneurship.

Campaign.com menginisiasi kegiatan Young Changes Maker Be Social Enterprise di @america, Jakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian program inkubasi usaha-usaha sosial di Indonesia. Dihadiri oleh narasumber-narasumber kece di bidang Social Enterprise, diantaranya  Stephanie Arifin (Direktur PLUS - Platform Usaha Sosial), Helga Angelina (Co-Founder Burgreens, dan William Gondokusumo (CEO Campaign). Berikut poin bahasannya :

Lanskap Sociopreneur di Indonesia

Pengusaha sosial atau sociopreneur yang terdata di Indonesia berjumlah lebih dari dua ribu. Namun karena merupakan industri yang baru berkembang di Indonesia, sulit untuk memetakannya secara spesifik. Istilah sociopreneur didefinisikan berbeda-beda oleh berbagai pihak dan memiliki tolak ukur capaian usaha yang berbeda-beda pula.

Platform Usaha Sosial (PLUS) melakukan penelitian terkait hal itu, bekerjasama dengan British Council dan UNESCAP pada tahun 2018. Menghasilkan definisi sociopreneur dalam konteks Indonesia yaitu usaha yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial dan memperoleh profit dari kegiatan operasionalnya.

Visi usaha sosial yang utama adalah tujuan sosialnya terlebih dahulu, kemudian dibuatkan model bisnis yang tepat. Menurut penelitian, 3 faktor yang paling berpengaruh menghambat bertumbuhnya wirausaha sosial adalah kepemilikan modal, cara memperoleh pendanaan, dan kemampuan managerial.

Penting bagi wirausaha sosial untuk mengkonversi capaiannya ke dalam angka, baik dari sisi dampak maupun profit untuk keperluan pendanaan. Meskpiun standar matriks dalam bidang social enterprise cenderung berbeda-beda.

Mengelola Bisnis Berorientasi Sosial

Salah satu cara menyeimbangkan sisi bisnis dan dampak sosial bagi sociopreneur adalah dengan memasukkan misi sosial ke dalam proses rantai bisnisnya. Selain bagaimana menjual makanan sehat dan sebagai upaya pelestarian lingkungan, Burgreens − sebuah usaha sosial di bidang kuliner – juga mementingkan nasib para petani sebagai penyuplai bahan baku.

Helga Angelina sebagai Co-Founder Burgreens menyadari bahwa dalam industri kuliner, petani sebagai penyuplai dan rumah makan atau restoran sebagai penjual memiliki keuntungan yang terlalu timpang. Proses yang panjang dari bahkan baku ke produk siap jual menguntungkan pihak perantara, namun merugikan petani yang tidak memiliki akses pasar untuk menjual barangnya langsung. Oleh karena itu, Burgreens melakukan pembelian langsung dari petani untuk memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh terdistribusi adil juga bagi petani.

Memulai bisnis sosial bukanlah hal yang mudah, Burgreens harus bekerja keras mencari-cari formula yang tepat selama dua tahun dari tahun 2013, baru pada tahun 2015 menemukan titik terang. Pada tahun 2019, kini Burgreens sudah punya 5 cabang di Jakarta.

Bukan Masalah Modal Tapi Motivasi

Sociopreneur butuh komposisi sumber daya manusia yang punya motivasi tinggi dalam bekerja keras untuk memberi dampak sosial, pekerjaan yang dilakukan dengan penuh passion akan selalu beriringan dengan hasil yang di dapat, termasuk profit.

Kadang menjadi socipreneur membuatmu merasa sendirian, seperti CEO Campign.com William Gondokusumo yang merintis bisnisnya karena faktor ketidaksengajaan. Namun memiliki tim yang penuh passion membuatnya punya alasan kuat mengapa bisnis sosial yang ia jalani harus bertahan.

Social enterprise sangat dibutuhkan di Indonesia sebagai penyeimbang ekosistem bisnis dan lingkungan. Bukan hanya bekerja dengan berbagai cara untuk menghasilkan keuntungan tanpa mementingkan pembangunan berkelanjutan.

Socioprenur membantu pemerintah menuntaskan beragam isu sosial. Semakin banyak permasalahan sosial, semakin banyak juga peluang bagi sociopreneurship untuk berkembang.


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: