Hal yang Harus Dilakukan Bila Hujan Membawa Kesedihan - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Berbagi dan Belajar

Post Top Ad

Hal yang Harus Dilakukan Bila Hujan Membawa Kesedihan

Ilustrasi dari moondoggiesmusic.com 

Hujan identik dengan kenangan. Entah itu kenangan manis atau kenangan pahit, hujan seolah mengulang momen-momen itu dalam setiap tetesnya. Membasahi ingatan, menghangatkan perasaan. Seperti novel keren dari Tere Liye yang berujudul “Hujan”.

Dari novel “Hujan” kamu akan belajar arti mengikhlaskan. Dalam hidup pasti ada kenangan indah yang jusru suatu saat akan menjadi boomerang bagi diri sendiri. Misalnya ingatan kasih sayang orang tua, pengorbanan seorang teman, hingga kebahagiaan bersama kekasih. Suatu saat orang-orang yang berharga dalam hidup pasti akan pergi. Bukankah hidup itu tentang pertemuan dan perpisahan?

Momen kepergian tercipta dengan berbagai cara dan dalam kondisi yang berbeda. Ada yang ditinggalkan oleh kematian, ada yang ditinggalkan oleh keputusan. Ada yang berpisah saat sedang bersama, ada yang berpisah saat sedang berharap untuk berjumpa.

Novel “Hujan” menceritakan tentang proses perpisahan anak dengan orang tuanya, seseorang dengan kekasihnya, dan seseorang dengan ingatannya. Kesemua itu terjadi di saat hujan turun. Lalu bagaimana setelahnya? Hidup dalam ketiadaan dan bertahan dalam lingkungan yang ekstrim.

Bila kenangan indah masa lalu berubah menjadi perih setelah perpisahan, andai ingatan itu bisa dihapus dengan sebuah alat berteknologi tinggi, apakah kamu rela untuk mengapusnya? Sekaligus menghapus segala hal tentang dia, menjadi seolah tak pernah bertemu, tak pernah mengenal, dan tak pernah ada di dunia.

Atau justru kamu harus menerimanya? Merelakan dia sebagai bagian dari masa lalu? Menjadikannya pelajaran hidup? Tapi dengan segala kesedihan yang ada, bagaimana caranya?

Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintai dalam kondisi terpuruk adalah peristiwa yang mematikan. Seseorang bisa kehilangan harapan, kepercayaan, bahkan kehidupan. Orang-orang yang tidak kuat menghadapi keadaan ini banyak yang akhirnya bunuh diri. Seakan-akan rasa sakit yang ia terima di dunia lebih besar dari yang ia rasakan ketika ajal.

Novel “Hujan” memberikan pemahaman bahwa kenangan buruk itu jangan dilupakan, tapi diikhlaskan. Perjuangan untuk mengikhlaskan pahit manis kehidupan harus diusahakan bahkan di detik-detik tetes darah penghabisan. 

Tidak mudah memang, menerima keputusan yang membuat seseorang terhempas dari segala doa dan harapannya. Namun sejatuh-jatuhnya seseorang, hidup harus terus berlanjut, dengan atau tanpa ia yang disayang.

Allah selalu tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Apa yang baik bagimu, bisa jadi buruk bagi-Nya. Apa yang buruk bagimu, bisa jadi baik bagi-Nya. Selalu ada hikmah dari setiap perjalanan. Tergantung apakah kamu bisa sabar, atau malah ingkar.

Alur kehidupan kadang sulit ditebak. Saat seseorang kehilangan, bisa jadi akan dipertemukan dengan orang yang lebih ia sayang. Atau bisa jadi, ia yang dikira pergi, tiba-tiba kembali.


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: