Tangisan Proses Evakuasi Keluarga di Balaroa - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Tangisan Proses Evakuasi Keluarga di Balaroa

Foto Ilustrasi dari BBC News  

Saya berhasil selamat dengan payah menuju rumah, namun bapak, mama, adik, serta beberapa saudara saya masih belum diketahui kabarnya. Beberapa saudara saya yang lain mencari informasi ke Perumnas Balaroa, tempat kedua orang tua dan adik saya berada. Jarak tempuh Perumnas Balaroa dari lokasi saya saat ini sekitar 5 menit dengan sepeda motor.

Tidak lama kemudian, mereka kembali dengan tangisan. Sambil terbata berkata bahwa Perumnas sudah rata dengan tanah. Ya Allah, belum selesai cobaan ini.

Istri saya semakin syok. Sekujur tubuhnya kesemutan. Saya yang menenangkan juga hampir tidak sanggup menahan air mata. Semua keluarga yang mendengar kabar itu menangis berharap tidak terjadi apa-apa.

Saya menenangkan diri. Merasa tidak puas dengan informasi tersebut, saya dibantu 4 orang teman pergi mendatangi langsung lokasi kejadian. Ternyata benar, saat itu orang-orang sudah menutupi jalan. Katanya jalanan terputus. Kami putar arah, mencari jalan alternatif lain. Namun hal sama yang kami temui. Semua akses jalan masuk ke Perumnas Balaroa sudah tidak ada lagi. Kami memutuskan untuk memarkir sepeda motor dan berjalan kaki mencari rumah keluarga saya.

Dalam keadaan gelap, jalan yang kami lalui sudah dipenuhi lumpur. Kaki saya sering kali masuk ke lumpur yang dalamnya sepaha orang dewasa. Tidak jarang saya terjebak masuk ke dalam lumpur kemudian ditarik lagi oleh 2 teman saya. 

Jeritan kesakitan orang-orang disekililing kami terus menggema di telinga. Tangisan orang meminta bantuan mencari sanak famili sudah tidak lagi kami perduli. Fokus kami hanya satu. Rumah kedua orang tua saya.

Tidak lama kemudian Alhamdulillah saya bertemu bapak saya yang masih hidup. Bersarung dan kemeja lengkap dengan kopiah di kepala, bapak saya hendak menuju masjid saat gempa terjadi.

Kami melanjutkan perjalanan sambil berteriak memanggil keluarga. Tidak ada balasan, sampai akhirnya suami adik saya menjawab. Saat kami mendekat, posisinya terjebak di reruntuhan. Badannya terjepit beton. Belakangnya ditindih oleh dinding dan depan perutnya juga terhimpit dinding yang lain.

Posisinya saat itu sedang berpelukan denga adik saya. Namun yang kelihatan di permukaan hanya tangan kanannya yang sudah pucat. Saat kami bertanya bagaimana kondisi istrinya, dia mengatakan bahwa istrinya sudah tidak bernyawa.

Hati saya teriris. Bapak menangis. Tetapi kami harus kuat untuk bisa mengevakuasi, karena anak mereka yang berusia 15 bulan masih dalam keadaan hidup terjebak di depan perut ibunya. Meskipun tidak kelihatan, suara tangisan mungilnya memotivasi kami untuk mengeluarkannya dari bawah.

Tidak ada yang bisa kami lakukan selain memukul beton yang menghimpit dengan besi kecil penyangga gorden. Besi ini bukan alat yang pas untuk menghancurkan beton yg besar. Dalam usaha menghancurkan dinding kembali terjadi guncangan. Kami sempat lari menyelamatkan diri.

Besi yang tadinya dipakai memukul hilang dibuang karena kepanikan. Kami kembali lagi. Kali ini tidak ada lagi alat yang bisa dipakai. Saya kembali mencari apa saja yang bisa digunakan untuk menghancurkan dinding.

Saya menemukan besi bekas tiang penyangga tangga. Besi yang saya dapatkan kali ini lebih besar dan lebih cepat menghancurkan beton. Akhirnya ponakan saya bisa diselamatkan. Alhamdulillah, Allah menolong dengan caranya sendiri.

Saya membawa ponakan saya meninggalkan orang-orang yang terus berusaha mengeluarkan ipar saya yang masih terjebak.

Dalam perjalanan pulang, saya terus memanggil mama yang belum ditemukan. Tak ada jawaban. Setibanya di rumah, keluarga yang menyambut menangis histeris karena tahu kalau adik saya sudah meninggal. Namun semua masih berharap mama masih ada.

Keesokan harinya, sekitar jam 9 pagi, ipar saya berhasil dievakuasi keluar dr lokasi setelah sebelumnya 3 jam diangkat oleh 6 orang yg membantu. Dia tidak bisa berjalan. Diduga tulang pinggulnya patah. Kemudian kami bawa langsung kerumah sakit untuk penangan medis lebih lanjut.

Duka saya makin mendalam ketika orang-orang yang saya temui di jalan mengatakan bahwa mama berhasil ditemukan namun sudah tidak bernyawa. Hati saya seperti teriris, tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Saya terpukul. Kemarin kami masih sempat ketawa-ketawi dan bercerita tentang mimpi. Hari ini saya melihat mayatnya yang sudah terbujur kaku. Innalillahi wa Inna Ilahi rojiunn. Ya Allah ampuni dosa mama, lapangkanlah kuburnya.

Saat saya menulis ini, hati saya terenyuh jika meningat kebaikan mama melalui mulut orang lain. Mata saya berkaca-kaca. Sungguh sosok yang menjadi panutan. Saat kami kecil mama seorang multitalenta, ya supir, ya guru, ya koki, ya istri, ya mama. Mama orang yang selalu percaya bahwa saya bisa melakukan sesuatu bahkan ketika diri saya sendiri tidak percaya bahwa saya bisa.

Kelak peristiwa ini akan menjadi pengingat untuk saya dan keluarga. Juga untuk para pembaca, semoga dapat mengambil pelajaran dan menjadi pengingat betapa kecilnya kita sebagai manusia.



Penulis :  Eka Putra Idris

No comments: