Belajar Penanganan Bencana dari Gempa 7,9 SR Bengkulu - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Belajar Penanganan Bencana dari Gempa 7,9 SR Bengkulu


Menurut cerita masyarakat, para orang tua Suku Rejang di Bengkulu saat terjadi gempa akan berteriak, “Hidup! Hidup! Hidup!” Menurut kepercayaan warga setempat, ada seekor kerbau raksasa di bawah tanah. Jika tanah bergoyang, itu tanda sang kerbau hendak bangkit. Orang-orang yang ada di atasnya harus berteriak dan memberitahukan bahwa orang yang ada di atas masih ada dan hidup.

Pasca gempa 7,9 SR melanda Bengkulu pada 12 september 2007, para warga selalu menyiapkan senter di samping ranjang. Senter membantu penghuni rumah menyelamatkan diri jika terjadi gempa. Gempa Bengkulu menelan banyak korban karena terjadi di malam hari. Tanpa senter, orang-orang buta arah karena listrik padam. Kini, bila ada guncangan sedikit saja, beberapa warga refleks terbangun.

Bengkulu menjadi salah satu kawasan yang menjadi contoh paling lengkap berkaitan dengan potensi kebencanaan yang minimpa wilayah Indonesia. Garis pantainya sepanjang 525 kilometer di pinggir barat Pulau Sumatra merupakan bagian kecil dari jalur zona subdiksi Palung Jawa. Inilah hal yang memungkinkan gempa dan tsunami menghantam kawasan ini.

Ketika Bengkulu memulihkan diri pasca gempa, pemerintah pusat memberikan bantuan stimulan perbaikan 53.000 rumah dengan kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Pengucuran bantuan itu terbagi menjadi tiga tahap, 20 persen tahap pertama, 70 persen tahap kedua, dan 10 persen pada tahap ketiga.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendampingi bantuan sampai ke masyarakat. Cara paling aman untuk menyalurkan dana sebesar itu adalah mengirimnya via rekening bank langsung ke masyarakat dengan sistem kelompok.

Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang memiliki satu rekening bank yang disepakati. LSM memfasilitasi kelompok-kelompok ini mempertanggungjawabkan bantuan tersebut, sekaligus memastikannya benar-benar dipakai untuk pemulihan.

Lima LSM yang terdiri dari Woman Crisis Center, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Sentra Citra Remaja Rafflesia, Seroja (kumpulan Anak SMA Bengkulu), dan Warsi Bengkulu, membangun koalisi kerja bernama Posko Lima.

Posko Lima berkerja senapas melakukan pendampingan bantuan dengan metode partisipatif. Membuka ruang sebesar-besarnya bagi peran serta masyarakat lokal. Model pendekatan ini menitikberatkan pada keberdayaan dan merancang-bangun kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pada gempa Bengkulu 2007, SMA Negeri 1 Lais di Bengkulu Utara hancur. Sekitar 97 persen bangunan sekolah ini rata dengan tanah. Beruntung getaran gempa terjadi pada sore hari ketika gedung sekolah sudah kosong. Beberapa bulan para siswa belajar di bawah tenda.

Guru-guru SMAN 1 Lais mengajarkan muatan lokal kebencanaan 2x45 menit setiap pekan. Siswa belajar mengenal bencana pada semester pertama, sedang pada semester kedua para siswa belajar terkait penanganan bencana. 

Terkait dengan distribusi bantuan, modul muatan lokal kebencanaan juga memperkenalkan kebijakan dan resiko-resiko yang timbul dalam upaya pengurangan resiko bencana yang ada di daerah bersangkutan. Seperti kasus pengiriman logistik yang dihadang di sebuah jembatan dan diturunkan paksa oleh sekelompok orang.

Masuknya Pengurangan Resiko Bencana (PRB) menjadi muatan lokal sekolah-sekolah di Bengkulu bermula dari penyusunan panduan dalam sebuah workshop yang dilaksanakn oleh Yayasan Mitra Aksi. Dihadiri oleh pemangku kepentingan seperti Dinas Pendidikan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Kehutanan, Bappeda, guru, dan kepala sekolah.

Butuh enam bulan menyelesaikan modul tersebut. Begitu rampung, modul diujicoba lagi tiga bulan yang disusul dengan evaluasi dan menyempurnaan. Evaluasi mencakup bagaimana manfaatnya pada guru dan peserta didik. Tahapan berikutnya, Yayasan Mitra Aksi sebagai fasilitator menyerahkan ke Dinas Pendidikan tiap kabupaten untuk diimplementasikan.

Pengetahuan tentang gempa diharapkan menjadi bekal siswa seumur hidup. Pengetahuan yang mereka dapatkan bisa digunakan, disebarkan kepada keluarga, dan diwariskan pada keturunan mereka kelak.

*Ditelaah dan ditulis ulang dari Buku Hidup di Atas Patahan, oleh Anwar Jimpe Rachman, 2012.

No comments: