Bertahan Hidup Saat Detik-Detik Gelombang Tsunami Menghantam Palu - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Bertahan Hidup Saat Detik-Detik Gelombang Tsunami Menghantam Palu

Foto ilustrasi dari viva.co.id  

Belum sempat adzan maghrib berkumandang, bumi sudah berguncang dengan dahsyat. Beberapa mobil di belakang saya berhenti dan penumpangnya turun ke tengah jalan. Para pengendara motor di depan banyak berjatuhan karena kondisi aspal yang rusak terbelah. Teriakan orang-orang terdengar jelas dari kejahuan.

Saya berusaha membuat tenang istri yang terus berdoa karena panik dan ketakutan. Bibir dan wajahnya putih pucat. Orang-orang lari dai Palu Grand Mall (PGM) kearah saya sambil berteriak, "air...air...air!" PGM hanya berjarak 20 meter dari bibir pantai. Saya memutuskan untuk pulang.

Baru berjalan kurang dari 5 menit, dari arah depan air terlihat jelas menuju mobil. Istri saya berteriak sejadi-jadinya. Saya hanya bisa berdoa sambil tetap berusaha menenangkan.

Mobil kami terseret derasnya air sekitar 15 meter ke belakang masjid. Ada beberapa pengendara yang juga ikut terseret bersama kami.

Begitu air agak surut saya memutuskan untuk keluar dari mobil. Volume air yg tinggi cepat masuk melalui sela-sela pintu mobil.

Saya menggendong bayi sementara istri mengikuti dari belakang. Kami berjalan mencari tempat yg lebih aman, saat itu air sudah sampai kurang lebih selutut. Belum lama kami berjalan, gemuruh kembali terdengar keras. Gelombang yang jauh lebih besar dan lebih tinggi datang ke arah kami.

Kali ini kayu, sampah, dan pepohonan kecil ikut terseret bersama derasnya gelombang. Sambil terus berdoa, saya mengatakan agar tetap tenang kepada istri. Gelombang yang membawa banyak material dengan cepat menghantam kami.

Istri yang memeluk saya dari belakang terlepas. Kami terpisah. Bayi kami terombang-ambing di bawah kayu-kayu yang tergulung air. Untungnya saya memegang erat kakinya.

Begitu ada kesempatan, saya mengangkatnya dari dalam air dan mendudukkannya di atas kayu-kayu sebagai pelampung. Saya ingat betul wajah bayi ajaib ini, ia tetap tenang dan tidak menangis sama sekali. Mungkin karena dia senang berenang dan main air.

Batang kayu yang menyeret saya bersama bayi berhenti setelah bertabrakan dengan pohon. Saya sempat terjepit, namun saya segera memanjat. Saya lolos dari maut. Laa Hawla Wala Kuuwwata Illa Billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali datangnya dari Allah.

Dengan kondisi gelap, saya kurang jelas melihat sekitar, ditambah kacamata saya yang hilang terhempas. Saya berjalan dalam kegelapan menuju rumah yang atapnya terlihat tinggi.

Sambil menggendong bayi dengan tangan kiri, tangan kanan saya berusaha mengangkat papan kayu untuk disandarkan ke dinding. Saya manapakinya sebagai jalan menuju atap. Namun usaha saya nihil. Setiap kali saya menaiki papan tersebut, saya terjatuh karena kondisi papan yang licin dan tidak seimbang.

Saya mencari jalan lain. Akhirnya menemukan gerobak yang jatuh tepat di bawah atap. Saya naik melalui gerobak tersebut untuk sampai dengan cepat di atas atap.

Merasa agak aman, saya terus berteriak mencari istri dari atas atap. Berkali-kali memanggil namanya dengan keras, namun tidak pernah ada balasan. Anak saya sudah menggigil kedinginan. Saya membuka pakaiannya yang basah.

Dari atas atap, kecemasan masih belum berakhir. Sempat terjadi 2 kali guncangan lagi yang membuat saya selalu awas. Saya berdoa: Laa Ilaha Illallah Laa Wahdahula Syarikalah Lahulmulk Walahul Hamdu Yuhyi Wa Yumitu Wahuwa Ala Kulli SyainKadiir. Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Setelah sejam berada di atas atap, saya melihat dengan samar ada orang-orang berjalan membawa senter. Dengan penuh harap saya berteriak memanggil mereka. Ternyata ada dua orang, bapak dan ibu yang sedang mencari jalan. Mereka sempat naik melihat kondisi kami. Namun hanya menyarankan bahwa segera meninggalkan atap dan mencari tempat yg lebih aman. Lalu mereka pergi di ujung gelap.

Saya kembali menunggu dan berdoa. Cahaya senter kembali terlihat menuju ke arah kami. Kali ini saya tidak melewatkan kesempatan untuk meminta bantuan. Begitu orang tersebut berada tepat di bawah kami saya segera berjalan turun. Belum sempat sampai di ujung atap seng, saya bersama bayi terjatuh dari ketinggian hampir 2 meter.

Kepala anak saya membentur kepala saya. Namun sekali lagi, bayi ajaib ini tidak bergeming sama sekali. Matanya hanya sayu tanda mengantuk. Wajahnya tetap tenang, seperti menguatkan saya untuk tetap berpikir jernih.

Akhirnya kami bertiga menyusuri jalanan rawa dan sungai kecil mengandalkan lampu dari ponsel pintar bapak penolong ini. Sekitar 10 menit berjalan saya menyarankan untuk putar arah karna tidak ada tanda-tanda jalan keluar.

Hampir setengah jam berjalan, saya tidak henti-hentinya membaca ayat kursi dengan harapan Allah melapangkan segala urusan. Sesekali saya berteriak memanggil istri saya. Di tengah kepasrahan melepas istri yg entah kemana, akhirnya saya mendengar dengan samar suara orang berteriak memanggil kami.

Alhamdulillah istri selamat bersama seorang ibu-ibu yang syok sehingga tidak mampu berbicara lagi. Mereka berlindung di pondok yang reot. Saat bertemu kami berpelukan dan bersyukur lolos dari maut. Istri saya sempat menyusui bayi kami, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju lampu di ujung pandangan. Berharap ada jalan menuju tempat aman.

Kami menyusuri jalanan aspal gelap yg sudah rusak akibat gempa, perjalanan terasa mencekam karena tidak sedikit tiang-tiang listrik sudah berjatuhan di jalanan. Air yang menggenangi jalan membuat kaki kami yang telanjang sering menginjak paku dan batu-batu bekas bangunan yang roboh.

Di ujung jalan kami bertemu pengendara motor yang sedang mencari makanan ke arah PGM. Saat saya memfokuskan pandangan, ternyata orang tersebut adalah teman saya. Qodarallah kami terbantukan untuk diantar pulang ke rumah.


Bersambung : Tangisan Proses Evakuasi Keluarga di Balaroa

No comments: