Menjawab Pertanyaan, Apakah Kota Palu akan Tenggelam - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Menjawab Pertanyaan, Apakah Kota Palu akan Tenggelam


Setiap menjelang maghrib sejak 28 September, beberapa orang masih was-was. Momen detik-detik gempa keras yang mengguncang Palu-Sigi-Donggala masih jelas membekas diingatan orang-orang yang pernah mengalaminya. Mencekam. Sebagian orang yang selamat berfikir bahwa itu merupakan detik terakhir di hidupnya, sebagian yang lain sempat menganggapnya kiamat.

Malam hari setelah gempa adalah suasana terhoror yang tidak akan pernah terlupa. Pasca Gempa 7.4 SR, Tsunami, dan Likuifaksi. Dalam perasaan takut, malam itu kami kembali diteror 26 gempa susulan. Listrik padam. Jaringan komunikasi putus. Sebagian orang dalam keadaan terluka, tertimpa bangunan, terjebak, kehilangan keluarga. Tidak ada penolong. Orang-orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Hari-hari berikutnya banyak kabar hoaks beredar. Salah satunya adalah kabar tentang akan adanya gempa yang lebih besar. Orang-orang panik. Meskipun itu berita simpang siur, tidak ada satu pun yang bisa menjamin dan memastikan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi, bahkan BMKG, atau kepala daerah yang seharusnya menjadi penenang.

Setelah rapat besar pertama yang dihadiri oleh Kepala BNPB, SAR, PMI, Mendagri, Menkopolhukam, Panglima TNI, Wakapolri, dan Gubernur, saya mencuri-curi kesempatan menemui Kepala BNPB, Pak Willem Rampangilei untuk meminta pendapat pribadinya terkait kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada di kepala saya.

“Pak, apakah ada kemungkinan apabila gempa yang keras terjadi lagi, arus tsunami mencapai ke titik-titik pengungsian yang ada saat ini, atau terjadi amblasan tanah?” tanya saya.

Ia terdiam sejenak, lalu menyuruh salah seorang stafnya untuk menjawab. Stafnya maju mendekat, mengambil kursi, dan duduk di samping saya. Sementara Pak Willem duduk sambil memainkan ponsel miliknya.

“Coba ulang pertanyaanmu!”, pinta staf tersebut.

Saya pun mengulang pertanyaan, “pak, apakah ada kemungkinan apabila gempa yang keras terjadi lagi, arus tsunami akan mencapai ke titik-titik pengungsian yang ada saat ini, atau terjadi amblasan tanah?”

“Bisa jadi,” jawabnya. Jantung saya berdegup. “Tapi kemungkinannya kecil. Asalkan gempanya tidak lebih dari 5 SR. Meskipun cuma 3 SR, tapi goyangannya tidak lebih dari 30 detik,” jelasnya.

“Jadi kalau lebih dari 30 detik?” tanya saya kemudian.

“Intinya jangan panik! Karena sebenarnya, resiko kematian itu muncul bukan karena gempanya, tapi karena perasaan panik sehingga salah mengambil langkah.”

“Jadi sebaiknya bagaimana?”

“Gempa itu umumnya hanya terjadi beberapa detik, biasanya tidak lebih dari 3 menit. Jadi saat gempa terjadi, carilah tempat yang aman seperti di bawah meja atau di lapangan terbuka. Bila gempa sudah reda, baru lari ke daratan tinggi atau ke titik-titik evakuasi.”

“Titik yang aman itu sekarang di mana, pak? Di bawah ada tsunami, di tengah tanah amblas, di atas longsor?” Saat itu saya belum mengenal istilah likuifaksi.

“Titik aman untuk menghindari tsunami minimal 2 KM dari pesisir pantai. Untuk menghindari tanah amblas, jauhi tempat-tempat yang banyak retakannya, karena biasanya ketika ada gempa lagi yang besar, guncangan itu akan meneruskan retakan yang ada. Kemudian hati-hati bagi pengungsi yang ada di dataran tinggi, apabila curah hujan meningkat kemungkinan akan terjadi longsor.”

“Jadi apakah gempa yang besar akan terjadi lagi dalam waktu dekat?”

“Ada kemungkinan, tapi biasanya, apabila sudah seperti ini maka tidak ada gempa besar lagi. Kalau pun ada, hanya gempa-gempa ringan sebagai tanda bahwa lempeng bumi sudah menemukan titik keseimbangan.”

Saya pulang dengan sedikit tenang, meskipun masih ada hal yang menganjal. Siapa pun tidak bisa memastikan kejadian gempa dan berlindung pada kalimat kemungkinan.

Pada hari yang lain saya bertemu dengan Kang Firdaus, salah satu kordinator Posko Relawan Data dan Informasi Palu, Sigi, Donggala (Pasigala). Saya berbincang dengannya untuk menjawab berbagai keresahan saya sebagai korban bencana yang kini menguatkan diri menjadi relawan untuk membantu orang-orang yang tidak seberuntung saya.

“Info yang beredar bahwa Kota Palu merupakan kawasan cincin api yang apabila terjadi gempa bersakala 8 – 9, bisa menyebabkan kota ini tenggelam. Bagaimana kita harus menyikapi informasi tersebut?”

“Memang informasi tersebut merupakan cerita lampau yang diwariskan secara turun-temurun oleh beberapa kelompok masyarakat. Bahkan dikisahkan dulu, waktu gempa keras terjadi di masa lalu, para nenek-nenek dulu harus menggantung blanganya bila ingin memasak. Karena gempa terjadi berkali-kali sehingga apabila blanga atau panci ditaruh seperti biasa, maka akan terjatuh. 

Namun soal Kota Palu yang akan tenggelam adalah cerita yang dilebih-lebihkan. Mungkin untuk meningkatkan kewaspadaan. Benar bahwa Teluk Palu ini bekas laut yang surut, namun siklus gempa besar selalu berakhir dan berangsur normal.”

“Bila kita telah mengenal sejarah tentang bencana, mengapa kebijakan pemerintah kita tidak menyesuaikan dengan pengetahuan itu? Teluk direklamasi, gedung dibangun tinggi-tinggi, saat gempa terjadi, minimnya persiapan mitigasi membuat penanganan terhadap bencana jadi tak terkendali.”

“Motifnya adalah pertumbuhan ekonomi. Jangankan di Palu, Kota Bandung yang sejak dulu tahu tentang penelitian akan terjadinya gempa akibat Sesar Lembang, tetap membuat aktivitas-aktivitas dan pendirian bangunan-bangunan yang rawan. Jadi, suatu saat gempa besar terjadi di Bandung, dengan jumlah penduduk sebanyak itu, dampaknya bisa jadi lebih parah dari Kota Palu.”

Jadi apa yang harus kita lakukan? Meskipun saya sebagai relawan senantiasa disuruh untuk menyebarkan optimisme, tapi saya harus jujur dengan diri sendiri. Tentang ketakutan saya yang mungkin juga mewakili ketakutan banyak orang.

Ada dua formula untuk menjawab keresahan akan ketidak pastian ini. Pertama, menambah pengetahuan tentang kebencanaan : bagaimana sejarah geografi kota ini, apa itu likuifaksi, dan apa saja hasil penelitian-penelitian terkait hal ini. Kedua, dengan mengikuti kata hati : intuitif, peka, dan pintar membaca tanda-tanda.

Jangan salahkan orang yang pergi meninggalkan Palu, jangan anggap bodoh orang yang bertahan, yang salah adalah orang tidak punya kontribusi tapi sibuk menyalahi.



Penulis : Muadz Al Banna

No comments: