Praktek Literasi Anak Jalanan - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Praktek Literasi Anak Jalanan


Perpustakaan Mini Nemu Buku mengadakan diskusi buku berjudul "Suara Dari Margin" dengan tagline "Literasi sebagai Praktik Sosial" bersama dengan penulisnya Sofie Dewayani. 

Diskusi dihadiri dari beberapa perwakilan komunitas yang juga bergerak di bidang literasi. Berikut pembahasan dari diskusi tersebut :

Praktek Literasi Orang Pinggiran

Buku "Suara Dari Margin" hadir menyuarakan kisah dari orang-orang pinggiran/margin dalam hal pelaksanaan praktek literasi. Anak-anak jalanan memiliki kemampuan literasi yang kurang dibandingkan anak-anak yang berprestasi di sekolah.

Anak-anak di daerah pinggiran cenderung lebih memilih bekerja mencari uang ketimbang bersekolah. Bukan karena anak-anak tersebut tidak bisa bersekolah, tapi karena uang lebih penting menurutnya daripada bersekolah. Apalagi jika apa yang dipelajari di sekolah tidak berhubungan langsung dengan apa yang mereka lakukan.

Dalam contoh kasus anak-anak jalanan, mereka sebenarnya sudah terliterasi dalam hal mencari uang dengan cara mengamen. Telinga mereka sangat musikal. Seharusnya sekolah dapat menghubungkan proses literasi mereka dengan proses pendidikan literasi di sekolah.

Pendidikan literasi seharusnya menyertakan contoh yang paling dekat dengan kehidupan di lingkungan anak. Menghubungkan materi dari sekolah dengan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Literasi yang baik adalah bagaimana menemukan makna dari setiap kegiatan belajar yang dilakukan.

Praktek Literasi Sosial yang Semestinya

Anak-anak harus belajar dari sesuatu yang mereka tahu, sangat kenal, dan relevan bagi mereka. Dalam contoh kasus anak jalanan, mereka bisa belajar dari nyanyian-nyanyian dan lagu-lagu yang mereka ciptakan.

Menurut penelitian, memang anak yang suka membaca daya konsentrasinya menjadi lebih panjang dan secara otomatis nilai UN nya akan meningkat. Namun definisi teks tidak dibatasi hanya sekedar tulisan. Ada teks visual, teks audio, dan teks multi model (perpaduan suara dan gambar).

Literasi yang tidak memberdayakan adalah pengetahuan dan anggapan bahwa hanya ada satu cara membaca, hanya ada satu cara menulis, dan hanya ada satu kurikulum untuk semua orang. Mengapa cara belajar diseragamkan sedangkan setiap anak yang sekolah memiliki kapital budaya yang beragam.

Oleh karenya, Rancangan Pengembangan Pembelajaran (RPP) sebagai panduan guru tidak boleh kaku dan terstagnasi oleh kurikulum pusat. Para guru harus bisa mengembangkannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada daerahnya.