Komunitas, Pemuda, dan Perjuangan Menghadapi Perubahan Iklim - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Komunitas, Pemuda, dan Perjuangan Menghadapi Perubahan Iklim


Salah satu rangkain kegiatan Indonesia Clean Up Day (ICD) di Kota Palu adalah bincang komunitas betema “manajemen sampah dan kontribusi pemuda”. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari 10 komunitas, bertempat di Nemu Buku.

Sukma Riverningthyas - delegasi Indonesia di UNESCO’s Mab Youth Forum, Italy – menjadi keynote speaker dalam kegiatan ini. Berikut beberapa poin bahasan penting dalam diskusi ini :

Manajemen Sampah

Iklim pasti berubah, namun perubahan iklim yang drastis adalah masalahnya. Tahun 2015, 195 negara di dunia bersepakat untuk bersama-sama membatasi kenaikan suhu sebanyak 2 derajat celcius, karena apabila suhu global naik 2 derajat, maka daerah-daerah di pinggir pantai Indonesia akan tenggelam. Volume air akan meninggi karena melelahnya es di kutub.

Indonesia adalah negara dengan produksi sampah di laut terbanyak kedua di dunia setelah Cina. Penyumbang oksigen terbesar dalam kehidupan adalah plankton. Apabila laut tercemar, maka ekosistem kehidupan akan terganggu sehingga mengakibatkan pemanasan global.

Selain itu, sampah plastik di laut akan mengancam kehidupan biota laut. Sedangkan sampah plastik di darat akan mencemari lingkungan karena sulit terurai di dalam tanah.

Jadi, isu perubahan iklim dapat diperangi dengan mengurangi atau me-manage penggunaan sampah plastik dengan 3R (Reuse, Reduce, & Recycle).

Kontribusi Pemuda

Komunitas pemuda harus mendaftarkan secara resmi komunitasnya agar terdata dan tersinergi dengan perencanaan SDG’s oleh Badan Perencanaan Nasional (BAPENAS), sehingga punya koneksi untuk mendapatkan bantuan dana, sponsorship, dll.

Tiap komunitas sebaiknya mencanangkan satu program terkait isu perubahan iklim karena merupakan masalah darurat dan harus melibatkan semua elemen masyarakat. Tak selamnya kualitas lebih baik dari kuantitas, karena untuk mencapai visi besar, butuh banyak orang untuk bisa berpartisipasi mewujudkannya.

Tak sekedar mempublikasikan dokumentasi kegiatan, komunitas harus mengukur seberapa besar dampak yang telah dihasilkan dari berbagai programnya dan mempublikasikannya agar menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan.

Siapapun bisa berkontribusi mulai dari hal-hal sederhana seperti mengkampanyekan #dontsuck (jangan payah/jangan menghisap). Salah satu cara untuk mengurangi sampah platik adalah dengan tidak menggunkan sedotan.

Jadi mulai sekarang, kalau nongkrong di kafe, kasi tahu pelayannya kalau minuman pesanan kamu tidak perlu dikasih sedotan, ya.