Program Recycling Center, Upaya Mengentaskan Masalah Sampah Kota Palu - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Program Recycling Center, Upaya Mengentaskan Masalah Sampah Kota Palu


Fakta menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di bantaran sungai sering berenang dan bermain di dekat tumpukan sampah. Seekor buaya bahkan sampai berkalung ban. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Kota Palu darurat sampah.

Sampah dari sungai yang pada akhirnya akan mengalir dan mencemari laut, mengurangi nutrisi ikan yang dimakan oleh anak-anak, serta merusak dan membunuh ekosistem laut. Sampah-sampah seperti botol plastik, kantong plastik, komponen elektronik, dan mainan, dapat menyumbat saluran perairan.

Plastik yang mencemari laut dapat berubah menjadi mikro bahkan nano plastik, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan koral. Sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah terurai.

Ekosistem laut yang terganggu akan mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen. Penyumbang oksigen terbesar di bumi adalah plankton yang hidup di laut, yaitu menyumbang 80% kebutuhan oksigen di bumi dan sisanya, pohon menyumbang 20% oksigen. 
Kekurangan suplai oksigen dapat mengakibatkan pemanasan global, iklim cuaca jadi tidak stabil, dan kenaikan permukaan air laut akibat melelehnya es di kutub.

Apabila plankton tanpa sengaja memakan sampah plastik mikro dan tidak bisa mencernanya, maka akan menumpuk di tubuh Plankton. Plankton ini merupakan makanan bagi ikan-ikan dan hewan laut lainnya. Plastik-plastik mikro ini juga akan terakumulasi di dalam tubuh ikan. 


Ikan tidak bisa mencerna plastik-plastik tersebut, meski berukuran mikro. Ikan yang mengandung plastik-plastik mikro inilah yang nantinya menjadi makanan kita. Jadi, sampah seperti siklus - yang dari manusia dan akan kembali pada manusia sebagai dampaknya.

Dampak lain yang diakibatkan oleh sampah sudah mulai terasa. Beberapa kepulauan di Kabupaten Banggai terkena tsunami musiman. Pulau-pulau kecil di sekitarnya akhirnya tenggelam.

Melihat hal tersebut, Reny Septiani dan Abizar Ghifari bersama Tim Seangle berusaha mencarikan solusi atas permasalahan itu dengan membangun sebuah Recycling Center. Mereka mengolah sampah-sampah di sekitar Teluk Palu dan sebagai pusat edukasi masyarakat tentang lingkungan.

Seangle adalah kelompok yang digagas oleh 5 orang pemuda, dua orang diantaranya berasal dari Palu. Tiga anggota tim lainnya berasal dari Manado dan Gorontalo yang juga menyelenggarakan program yang sama di daerahnya. 


Tim tersebut dibentuk pada kegiatan nasional, Youth Marine Debris Summit (YMDS) di Jakarta. Program Recycling Center ini berhasil dipersentasikan di kegiatan tersebut dan berhasil mendapatkan predikat Best Action Plan.

Detail program di Recycling Center yang akan direalisasikan adalah sebagai berikut:

Rupiah (Rumah Pendidikan Sampah)

Tempat anak-anak mendapatkan pelajaran bahasa inggris dan keterampilan soft skill lainnya. Caranya dengan menukarkan sampah sebagai syarat masuk. Sistem seperti ini secara tidak langsung menumbuhkan karakter anak-anak untuk peduli mengangkut sampah.

Upcycling

Pemberdayaan masyarakat lokal untuk memanfaatkan kresek bekas menjadi produk kerajinan anyaman. Produk ini nantinya akan menjadi industri kreatif yang menghasilkan profit. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi limbah plastik dengan cara mendaur ulang.

Sea School

Edukasi ke anak-anak SD melalui pengadaan kurikulum singkat terkait pemilahan sampah. Kegiatan ini akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di Kota Palu.

No comments: