Sampah Kota│Separah Apa Masalah Sampah di Kota Palu dalam 3 Tahun Terakhir? - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Sampah Kota│Separah Apa Masalah Sampah di Kota Palu dalam 3 Tahun Terakhir?

Foto dari jpnn.com

Pemerintah sudah melarang secara tegas warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi tetap saja banyak warga yang membuang sampah ke sungai. Beberapa orang membuang sampah ke sungai Miangas pada malam hari saat tidak ada yang memperhatikan.

Pembuang sampah tersebut diidentifikasi bukanlah warga sekitar, namun aliran sungai membuat sampah akhirnya menumpuk. Pada saat musim hujan, air sungai meluap. Sampah bisa masuk ke dalam rumah warga yang sudah menjadi langganan genangan banjir.

Kejadian seperti di Miangas juga terjadi di banyak titik di Kota Palu, tidak terkecuali di kawasan wisata dan ikon Kota Palu, Jembatan Kuning. Permasalahan ini bahkan menjadi isu panas yang sempat diliput berbagai media nasional.

Kami menelesuri dan mencari penyebab dari permasalahan ini. Hasilnya, salah satu penyebabnya adalah karena ketidakjelasan lokasi tempat pembuangan sampah sementara. Masyarakat tidak diberikan informasi tentang titik pembuangan sampah sementara secara pasti. Sehingga mereka cenderung membuang sampah di tempat-tempat yang tidak semestinya.

Data BPS tentang volume sampah yang terangkut menurut asal sampah di Kota Palu tahun 2013-2016 menyebutkan : total sampah yang ada di Kota Palu dari tahun 2013 sejumlah 220.045 m3 menjadi 252.560 m3, bersumber dari sampah rumah tangga, sampah pasar, kawasan bisnis, hotel dan restoran, serta faslitas umum.

Sampah kawasan pasar, kawasan bisnis, hotel dan restoran cenderung menurun dari tahun ke tahun. Namun sampah yang bersumber dari rumah tangga bertambah drastis dari tahun 2013 sejumlah 25.801 m3 menjadi 178.806 m3 di tahun 2016.

Akar Permasalahan

November 2015, sampah yang terangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Palu hanya 10 persen dari total produksi sampah kota. Jumlah produksi sampah rumah tangga sekitar 1.000 m3 per hari, namun yang bisa diangkut ke tempat pembuangan akhir hanya sekitar 108 m3 saja.

Penyebab sampah tidak terangkut secara maksimal yakni karena minimnya anggaran operasional, kurangnya personel/buruh pengangkut sampah, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta kurangnya kendaraan pengangkut sampah.

DKP memiliki 36 unit kendaraan pengangkut sampah dan kurang lebih 150 buruh yang beroperasi setiap hari. Sayangnya, pengoperasian 36 unit kendaraan itu tidak disertai dengan dukungan anggaran yang maksimal.

Dalam sebulan biaya operasional penanganan sampah di Kota Palu hanya sekitar Rp. 125 juta, sudah termasuk honor buruh. Sementara jarak antara titik-titik pengumpulan sampah dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kurang lebih 10 kilometer.

Januari 2016, berdasarkan data yang diperoleh Divisi Riset dan Kampanye LSM Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) Sulawesi Tengah : Produksi sampah per orang per hari 0.8 kg, dengan estimasi total produksi sampah Kota Palu 1.280 m3/hari setara dengan 320 ton sampah kering per hari.

Dinas Kebersihan mengakui bahwa per Juli 2016, Pemkot Palu hanya dapat mengangkut 600 m3 sampah basah kering ke tempat pembuangan sampah akhir di Kelurahan Kawatuna Palu Timur. Pengangkutan sampah menggunakan 40 armada, yang masih butuh tambahan.

April 2017, Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu membangun kurang lebih 120 TPS permanen dan selebihnya adalah TPS berupa kontainer. Dalam perjalanannya, pada Februari 2018 banyak yang mengeluhkan minimnya ketersediaan kontainer sampah di sejumlah kelurahan.

Dampak Sampah di Kota Palu

Sampah, terutama yang berjenis plastik membawa dampak negatif yang luar biasa bagi manusia dan lingkungan. Dampak yang sudah terjadi antara lain:

1. Mengganggu Rantai Makanan

Pencemaran sampah plastik turut mempengaruhi organisme terkecil di dunia seperti plankton. Ketika organisme kecil ini teracuni akibat mengkonsumsi plastik berukuran mikro, maka hewan besar yang memakannya juga teracuni.

Dari ikan paus, singa laut, dan beberpa jenis burung sangat berhubungan dengan organisme mikroskopis yang disebut zooplankton. Plastik sangat mempengaruhi kehidupan laut di pantai dan lepas pantai. Tahun 2016, setidaknya 267 spesies binatang yang berbeda diketahui telah terjerat dan mati akibat sampah terkait plastik dan telah membunuh 100.000 mamalia laut setiap tahun, jutaan burung, dan juga ikan.

Pada tahun 2017, seekor hiu paus (shark whale) terdampar di pantai Talise, Kampung Lere, Palu Barat. Di tahun yang sama Masyarakat Kota Palu kembali dihebohkan dengan terdamparnya seekor Ikan Pogo berukuran besar di bawah Jembatan Palu IV.

Terdamparnya Ikan Pogo atau Ikan Mola-Mola di sekitar muara Teluk Palu bukan baru kali. Beberapa bulan sebelumnya ikan berjenis sama juga terdampar.

Seekor ikan duyung baru-baru ini terdampar di pantai kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Timur. Ikan berdiameter 85 centimeter dengan panjang hampir 2 meter itu, ditemukan tidak berdaya dihempas ombak di pinggir pantai.

2. Mencemari Air Tanah dan Polusi Udara

Sampah menyebabkan pencemaran air tanah. Ketika sampah plastik dibuang ke tempat pembuangan sampah, ia akan berinteraksi dengan air. Kemudian membentuk bahan kimia berbahaya. Ketika bahan kimia ini meresap ke bawah tanah, mereka menurunkan kualitas air.

Pembakaran sampah plastik di udara terbuka menyebabkan pencemaran udara akibat pelepasan bahan kimia beracun. Udara tercemar ketika terhirup oleh manusia dan hewan. Ini mempengaruhi kesehatan dan dapat menyebabkan masalah pernapasan.

Pembuatan produk plastik menggunakan sejumlah bahan kimia beracun. Oleh karena itu, penggunaan produk plastik dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan yang mempengaruhi orang di seluruh dunia. Proses pembuatan, penyimpanan, membuang plastik berpotensi berbahaya bagi makhluk hidup.

Berbagai macam penyakit menyerang masyarakat Kota Palu. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (Ispa) berada di urutan teratas pada tahun 2016 sesuai data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu. Selain itu, sepanjang tahun 2016 juga ada beberapa jenis penyakit lainnya menonjol. Salah satunya adalah penyakit kulit alergi sejumlah 10.513 kasus.

Dengan banyaknya debu yang berterbangan di Palu, masyarakat sangat mudah terserang ispa. Hingga saat ini ispa tetap menduduki peringkat nomor satu. Selain itu penyakit yang juga muncul yakni penyakit demam berdarah dan malaria.

3. Banjir dan Pencemaran Lingkungan

Oktober 2017, Kota Palu diguyur hujan lebat selama dua jam yang mengakibatkan puluhan rumah di beberapa wilayah permukiman penduduk terendam banjir. Banjir terjadi di kawasan jalan Karajelembah, Malaya, Towua, Kancil Bawah, Anoa II, dan Miangas. Banjir menutupi badan jalan dan menggenangi rumah-rumah penduduk di wilayah itu.

Bahkan di badan jalan di perempatan lampu merah Towua Palu Selatan, air sampai setinggi lutut orang dewasa. Arus kendaraan yang melintas terpaksa harus antri dan terlihat sejumlah kendaraan sepeda motor mogok terpaksa didorong warga keluar.

Hujan deras juga mengakibatkan Sungai Kawatuna di Kecamatan Palu Timur banjir dan warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai tersebut tampak khawatir terancam jebol.

Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu menyatakan masih banyak jalan dalam kota Palu yang tergenang banjir setelah diguyur hujan. Banjir atau genangan air dalam Kota Palu merupakan permasalahan yang terus terjadi. Sejak Palu menjadi kotamadya, hingga kini persoalan banjir dalam kota belum juga teratasi.

Sedikitnya ada 10 jalan dalam kota Palu yang sering menjadi langganan banjir. Jalan-jalan itu yakni: Jalan Basuki Rahmat (bawah), Jalan Kartini (bawah), Jalan Sam Ratulangi, Jalan Raja Moili, Jalan Martadinata, Jalan Prof Moh Yamin, Jalan Diponegoro, Jalan Tombolotutu, Jalan Hayam Wauruk, Jalan Tg Santigi dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Desember 2017, air parit meluap di Tondo. Luapan air parit yang tumpah ruah ke jalan hingga separuh badan jalan di Jalan Martadinata, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Akibat genangan air itu, aktivitas warga jadi terganggu. Selain memunculkan bau tidak sedap, lalu lintas juga sangat terganggu di area genangan.

Penyebabnya karena tumpukan sampah yang berasal dari atas dan menghambat aliran air di selokan sehingga meluap ke jalan. Selain genangan air di wilayah itu, beberapa titik di Jalan RE Martadinata Tondo juga terjadi hal yang sama.

No comments: