Pemahaman Literasi dan Kesalahan-Kesalahan Penerapannya - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Pemahaman Literasi dan Kesalahan-Kesalahan Penerapannya


Masyarakat pada umumnya, bahkan beberapa pegiat literasi yang saya temui kadang masih salah kaprah tentang konsep literasi. Sebagian menganggap literasi sekadar proses membaca sehingga memisahkannya dari realitas kehidupan. Padahal selain membaca, tugas literasi juga menganalisis dan menerapkan hasil bacaan tersebut.

Ada dua kemungkinan mengapa terjadi stagnasi dalam pelbagai gerakan yang bertemakan literasi. Pertama karena gerakan yang ada baru dimulai dari bidang literasi pustaka dan dalam proses pengembangan pada bidang literasi yang lain. Kedua karena pemahaman literasi yang kurang oleh para pegiatnya sehingga membatasi ruang lingkup gerakannya.

Mayoritas Taman Baca Masyarakat (TBM) dan Pustaka Bergerak menargetkan masyarakat desa atau pelosok dalam pelaksanaan kegiatannya. Salah satu misinya adalah memberikan kemudahan akses bacaan kepada masyarakat. Namun bagaimana dengan masyarakat di perkotaan? Bagaimana formula gerakan literasi kota?

Saya membagi target gerakan literasi kepada 4 kelompok, anak-anak, remaja, pemuda, dan dewasa. Anak-anak meliputi anak seusia TK hingga kelas 6 SD. Remaja meliputi anak seusia SMP dan SMA. Pemuda biasanya adalah mahasiswa atau pekerja usia 30 tahun ke bawah. Dewasa meliputi bapak-bapak dan ibu-ibu usia 30 tahun ke atas. Setiap kelompok memiliki pendekatan yang berbeda.

Pengertian Literasi

Istilah literasi dalam bahasa latin disebut sebagai Literatus yang artinya adalah orang yang belajar. National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Education Development Center (EDC) juga turut mengeluarkan pengertian dari literasi, yaitu kemampuan individu untuk menggunakan potensi serta skill yang dimilikinya. Literasi mencakup keterampilan berfikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Intinya, literasi adalah kemampuan untuk memperoleh, mengolah, dan menggunakan informasi.

Pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya, serta pengalaman. Literasi juga tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Oleh karena itu, kemampuan dasar dalam berbahasa yakni membaca dan menulis adalah pintu pengembangan literasi.

Komponen Literasi

Beberapa jenis dan komponen literasi antara lain:

Literasi Dini, merupakan kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berliterasi dengan lingkungan sosialnya. Pengalaman dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi literasi dasar.

Literasi Dasar, merupakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mempersiapkan informasi, mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

Literasi Pustaka, diantaranya memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

Literasi Media, merupakan kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti, media cetak, media elektronik (radio, televisi), media digital (internet), serta memahami tujuan penggunaannya. Kemampuan untuk mengenali kapankah suatu informasi diperlukan dan kemampuan untuk menemukan serta mengevaluasi, kemudian menggunakannya secara efektif dan mampu mengkomunikasikan informasi yang dimaksud dalam berbagai format yang jelas dan mudah dipahami.

Literasi Teknologi, merupakan kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), serta etika menfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet.

Literasi Visual, adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual dapat berupa dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal).

Literasi Kesehatan, merupakan kemampuan untuk memperoleh, mengolah, serta memahami informasi dasar mengenai kesehatan serta layanan-layanan apa saja yang diperlukan di dalam membuat keputusan kesehatan yang tepat.

Literasi Finansial, yakni kemampuan di dalam membuat penilaian terhadap informasi serta keputusan yang efektif pada penggunaan dan juga pengelolaan uang, di mana kemampuan yang dimaksud mencakup pelbagai hal yang ada kaitannya dengan bidang keuangan.

Literasi Kritikal, merupakan suatu pendekatan instruksional yang menganjurkan untuk adopsi perspektif secara kritis terhadap teks, atau dengan kata lain. Jenis literasi yang satu ini bisa kita pahami sebagai kemampuan untuk mendorong para pembaca supaya bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang menjadi dasar argumentasi teks.

Penerapan Literasi

Tiga tahapan literasi berupa text reader, text analysis, dan text user. Setiap orang seharusnya menjadikan literatur sebagai bahan referensinya untuk bertindak. Namun sebelum itu, hal yang perlu dilakukan adalah mengkaji isi bacaan, baik secara individu maupun berdiskusi dengan orang lain. Kesimpulan dari analisis hasil bacaan itulah yang akhirnya diimplementasikan, dievaluasi, dan diperbaharui dengan menambah referensi-referensi yang baru.

Contohnya, seorang anak yang baru belajar bermain sepak bola perlu untuk mencari bahan pembelajaran tentang permainan sepak bola, seperti tehnik, aturan, perlengkapan, dll. Bahan pembelajaran yang dicari bisa berupa buku tentang tips dan trik bermain bola, novel bertema sepak bola, tutorial vidio di Youtube, dan pelbagai artikel dari Google.

Setelah memperkarya literatur, anak tersebut menganalisis bahan-bahan yang telah ia kumpulkan, memahaminya, dan membandingkan tips dan penjelasan antara referensi satu dengan yang lain. Beberapa sumber bahan belajar dari literatur terkadang berbeda dan saling bertentangan. Kemampuan analisis bertujuan untuk merangkum hasil pembelajaran kemudian membuat kesimpulan dan keputusan.

Setelah keputusan dibuat, maka sang anak langsung mempraktekan hasil belajarnya dan melakukan latihan secara terus-menerus. Selalu ada kesalahan penerapan dalam proses pembelajaran. Namun itu harus terus dievaluasi dengan menambah atau melihat kembali literatur yang ada.

Proses mencari referensi literatur (teks, vidio, dan audio) kemudian menganalisisnya untuk membuat kesimpulan, selanjutnya membuat keputusan untuk bertindak dan mengaplikasikannya adalah proses yang harus dilakukan berulang-ulang. Proses yang sama juga berguna bagi seseorang untuk meningkatkan keahliannya.

Gerakan-gerakan di luar TBM dan Pustaka Bergerak, apabila melakukan proses pengumpulan referensi, pengkajian literatur, dan pengaplikasiannya dalam kehidupan pada bidang apapun itu seperti agama, bisnis, pemerintahan, dan organsasi kepemudaan, maka itu semua merupakan bagian dari gerakan literasi.

Banyak orang yang melakukan proses literasi tapi tidak menyadarinya. Banyak orang yang melakukan kegiatan donasi buku tapi luput dari proses literasi yang sebenarnya. Banyak orang yang membaca tapi tidak mengkaji, banyak orang yang mengkaji tapi tidak menerapkannya, banyak orang yang bekerja tapi tidak menjadikan hasil kajian literatur sebagai acuannya, maka literasi yang kita lakukan adalah literasi yang pincang.


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: