Gagal Paham Soal Drop Out, Untad Kebiri Gerakan Mahasiswa - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Gagal Paham Soal Drop Out, Untad Kebiri Gerakan Mahasiswa


Rektor Untad melalui pernyataannya di berbagai media menuduh organisasi mahasiswa sebagai dalang dibalik banyaknya jumlah mahasiswa yang Drop Out (DO) dari kampus. Pada tahun 2017, ada 1500 mahasiswa yang di-DO. Menurut fakta dan data versi kampus, 90% dari jumlah mahasiswa tersebut merupakan aktivis kampus.

Akibat dari kesimpulan itu, pihak birokrasi kampus seakan memandang sebelah mata gerakan organisasi mahasiswa. Hal tersebut berdampak pada kebijakan dan wacana yang dikembangkan oleh pihak kampus kepada mahasiswa sejak tahun 2015 hingga meruncing di tahun 2018 ini.

Bentrok pemikiran yang pertama terjadi saat sambutan Rektor, Muhammad Basir saat Ormik di depan mahasiswa baru 2015. Beliau mengatakan bahwa mahasiswa baru dilarang berlembaga di semester awal.

Peristiwa tersebut sontak membuat lembaga kemahasiswaan dari tingkat universitas hingga program studi geger. Keesokan harinya ratusan anggota organisasi mahasiswa memadati gedung rektor untuk meminta klarifikasi.

Rektor saat itu sedang tidak berada di tempat, namun ancaman akan memboikot aktifitas kampus membuat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Jayani Nurdin akirnya mengalah dan membolehkan kegiatan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru pasca Ormik.

Meski begitu, oknum birokrasi kampus tak kehabisan akal. Untuk menekan kekuatan gerakan mahasiswa, dibuatlah kebijakan yang mengharuskan mahasiswa melakukan proses penerimaan anggota baru di dalam kampus. Saat itu protes dari mahasiswa masih kuat sehingga ditoleransi. Boleh di luar tapi harus di dalam kota saja.

Sayangnya penekanan demi penekanan berhasil dilakukan oleh kampus pada tahun berikutnya. Beberapa organisasi mahasiswa, khususnya yang berbasis massa seperti himpunan jurusan dipaksa untuk melakukan prosesinya di dalam kampus. Kalau tidak, maka ketua, pengurus, dan panitianya diancam skors.

Konfrontasi ini makin menjadi saat pihak kampus seolah membiarkan tindakan represif oknum mahasiswa terhadap Ketua BEM 2016 atas nama Putra yang dikudeta dengan cara-cara yang terkesan radikal.

Bukannya berdialog atau melaporkannya kepada pihak yang lebih berwenang untuk ditindaki, tapi sejumlah oknum mahasiswa malah mengganggu kelancaran Ormik dan melakukan penyegelan sepihak terhadap sekertariat BEMUT.

Putra dalam hal ini memang salah karena sebagai presiden mahasiwa, ia mencalonkan diri dan terpilh menjadi presiden mahasiswa dalam kondisinya yang sedang cuti akadamik. Namun haruskah hal itu direspon dengan tindakan anarki?

Konfrontasi berlanjut pada peristiwa yang hampir serupa menimpa BEMUT 2017. Mereka juga dikudeta atas tuduhan melakukan aksi demo HARDIKNAS tanpa izin dan tuduhan adanya intervensi lembaga ekternal dalam aksi tersebut. 

Parahnya, kali ini tindakan represif datang dari rekan sesama mahasiswa dan juga aparat kampus UPT Security. Lagi-lagi sekertariat disegel sepihak. Aksi dibubarkan.

Saya tidak mau menyimpulkan atau berasumsi bahwa dua peristiwa yang menimpa kedua BEM di dua periode tersebut sebagai upaya pelemahan karena track record kinerja mereka yang sering melawan atau kontra terhadap berbagai kebijakan kampus. Atau berasumsi bahwa birokrasi kampus sengaja memanfaatkan lawan politik BEM terpilih untuk menjatuhkan pihak yang menentangnya sebagai startegi baru.

Terlalu berbahaya untuk melandaskan argumen pada dua asumsi tersebut, namun yang menjadi kesimpulan sementara saya adalah, dasar pemikiran yang menyatakan bahwa 90% mahasiswa DO adalah aktivis lembaga, mendorong perilaku kampus untuk acuh dan tidak serius menyelesaikan masalah kelembagaan mahasiswa di tataran universitas.

Tahun 2018, konfrontasi kelembagaan kampus makin menjadi. Terbukti dari laporan pertanggungjawaban 4 presidium dan pemilihan majelis mahasiswa yang dilakukan tanpa kongres. Kemudian terpilihnya BEM Untad 2018 secara aklamasi yang penuh dengan kecurigaan. Sejumlah mahasiswa berdemonstrasi. Apakah pihak kampus akan membiarkannya juga?

Dua aliran politik kampus seakan tak berhenti beradu sejak tahun 2016 silam seperti kubu Jokowi dan Prabowo yang saling sikat dan mendeklarasikan kebenaran versi masing-masing di relasi media yang dimiliki. Kubu mahasiswa terpecah jadi dua. Kubu oposisi yang menamai dirinya Front Perjuangan Mahasiswa yang tidak mengakui keberadan BEMUT dan kubu koalisasi, MM dan Presma terpilih yang didukung oleh rektor.

Lagi-lagi saya tidak mau berasumsi siapa yang paling benar antara Jokowi atau Prabowo. Saya hanya berharap, Rektor di akhir masa jabatannya tidak memihak dan menyelesaikan persoalan ini agar tak menjadi dendam tujuh turunan. Dengarkan kedua aspirasi dan beri sanksi mereka yang tidak hadir saat mediasi.

Apabila bola salju yang digulirkan pihak kampus untuk tidak serius menangani permasalahan organisasi mahasiswa demi kepentingan akademik − dianggap baik-baik saja, mestinya tidak perlu berbangga berlebihan di tahun 2017 karena peringkat Untad berhasil mengalahkan Unhas dan menjadi kampus terbaik se-Indonesia Timur di urutan ke-23. Karena faktanya, Untad justru terjun bebas ke peringkat 61 pada tahun 2018 berdasarkan info dari situs yang sama. Ketinggalan jauh dari Unhas yang bertengger di peringkat 21.

Selisih penurunan peringkat yang hampir 3 kali lipat mencirikan bahwa ada masalah di kampus ini yang bila tidak segera diperbaiki akan sangat berbahaya. Termasuk prespektif tentang banyak mahasiswa DO yang disebabkan karena aktif berlembaga yang menurut saya keliru. Pernyataan yang diakui rektor berdasarkan data dan fakta yang dimiliki kampus patut diragukan.

Menurut penelitan Erik Susanto tentang  ‘Pengaruh  Keaktifan  Berorganisasi  terhadap  Prestasi  Akademik Mahasiswa  Jurusan  Teknik  Sipil  Fakultas  Teknik  Universitas  Negeri  Malang’, menyimpulkan bahwa prestasi akademik  mahasiswa  yang  sangat  aktif  berorganisasi  lebih  tinggi  dari  mahasiswa  yang aktif,  kurang  aktif,  dan  tidak  aktif  berorganisasi.  Sedangkan  pengaruh  dari  keaktifan berorganisasi terhadap prestasi akademik relatif kecil (11,9%).

Akibat kekeliruan ini pula, realisasi nota kesepahaman Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terkait program deradikalisasi di tingkatan mahasiswa disusupi kepentingan sosio akademik. Wacana dan pemikiran tentang mahasiswa baru dilarang berlembaga di tahun pertamanya terus digembar-gemborkan hingga ke tingkat fakultas.

Pengertian akademik merujuk pada akademis yang berarti kemampuan yang dapat diukur secara pasti karena ilmu pengetahuan itu sendiri bersifat pasti dan dapat diuji kebenarannya. Ukurannya bisa berupa nilai ataupun yang seringkali disebut dengan prestasi akademik.

Prestasi akademik ini dapat dinilai ataupun diukur dengan menggunakan tes yang baku atau tes yang sudah ada standarnya. Contoh prestasi akademis antara lain juara olimpiade sains, nilai IPK lulus dengan Cumlaude, ranking 1 di kelas, dsb.

Kebalikannya, ada juga istilah non akademis. Pengertian non akademis adalah segala sesuatu di luar hal-hal yang bersifat ilmiah dan tidak terpaku pada satu teori tertentu. Berbeda dengan kemampuan akademis, kemampuan non akademis seseorang sulit diukur secara pasti karena tidak ada salah dan benar di dalamnya.

Contohnya prestasi non akademis antara lain: seni berkomunikasi, kemampuan berorganisasi, punya kepribadian yang kuat, teamwork/kemampuan kerjasama, kemandirian, dan leadership skill/kecakapan memimpin.

Polemik DO terkait hubungan akademis dan non akademis ini juga pernah diungkapkan mantan mahasiswa ITB yang pindah dan menjadi mahasiswa UI. Ia menjawab pertanyaan mengapa jumlah DO mahasiswa ITB lebih banyak dibandingkan mahasiswa UI berdasarkan pengalaman empiris yang ia alami.

Salah satu alasannya karena ITB merupakan kampus yang sangat akademis sehingga lingkungan pertemanan antar mahasiswa menjadi terbatas dan sangat dituntut mandri secara akademik. Tak seperti di UI yang kaya akan pertemanan karena dibangun atas jaringan kelembagaan mahasiswa.

Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian dari Institut Teknologi Sepeluh November tentang ‘Analisis Prediksi Drop Out Berdsarkan Perilaku Sosial Mahasiswa’. Peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi dapat dilihat dari tingginya tingkat keberhasilan mahasiswa dan rendahnya tingkat kegagalan mahasiswa. Salah satu indikator kegagalan mahasiswa adalah kasus DO.

Hasil analisis menunjukkan variabel input untuk parameter sosial yang paling berpengaruh adalah kualitas interaksi dengan teman dan variabel hubungan keluarga. Sedangkan  variabel  input  untuk  parameter  individu  adalah  motivasi.  Untuk parameter akademik, variabel input yang paling berpengaruh adalah SKS dan IPK.

Jumlah mahasiswa DO di kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya mengalami peningkatan pada tahun 2014. Terhitung hingga 1 Oktober 2014 jumlah mahasiswa ITS yang DO adalah sebanyak 21.358 orang. Tahun sebelumnya jumlahnya sebanyak 20.489 orang. Selisih peningkatan kenaikan dari tahun 2013 ke tahun 2014 sejumlah 869 orang.

Bedanya, ITS tak menyalahkan aktivis organisasi atas DO yang terjadi. Pihak ITS bahkan melakukan penelitian yang bekesimpulan bahwa kebanyakan penyebab DO terjadi karena mahasiswa tidak lulus mata kuliah UPMB (Unit Pengelola Mata Kuliah Bersama) di semester awal dikarenakan mahasiswa tersebut masih belum mampu menyesuaikan diri dengan dunia kampus. Karenanya dibutuhkan peran dosen wali dalam membimbing mahasiswanya hingga mahasiswa mampu mengikuti arah perkuliahan dengan baik.

Dalam penelitian tersebut juga menerangkan bahwa dibutuhkan revitalisasi peran dosen wali dalam menuntun mahasiswa. Dalam hal ini dosen wali harus mampu mendengar serta memberikan alternatif penyelesaian masalah bagi mahasiswa. Selain itu juga dibutuhkan transparansi antara mahasiswa dan dosen wali dalam menyusun program studi.

Apakah perbedaan geografi dan demografi Untad memberikan kesimpulan yang berbeda dalam menyikapi masalah DO dibandingkan data dan fakta yang saya cantumkan diatas? Apakah justru problema pelik di tataran lembaga kampus sengaja dibiarkan agar meredam protes sejumlah organisasi mahasiswa soal uang KKN yang tidak transparan dan kenaikan UKT tahun 2018? Saya harap Rektor cuma khilaf dan segera mengubah sikap.


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: