Sampah Kota│3 Tahun Kinerja Komunitas Kota Palu Melawan Sampah - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Sampah Kota│3 Tahun Kinerja Komunitas Kota Palu Melawan Sampah



Dibalik masifnya gerakan peduli sampah yang diinisiasi oleh Pemkot Palu di tahun 2018, tiga tahun sebelumnya puluhan anak muda telah memulainya. Mereka merupakan anggota beberapa komunitas yang konsen di bidang lingkungan, diantaranya Komunitas Earth Hour Palu, Turun Tangan Palu, Peduliku, Green Generation Sulteng, dan Baju Kertasku.

Aksi Mengurangi Sampah Plastik

Komunitas Earth Hour melakukan kampanye hemat kantong plastik di anjungan Nusantara mulai November 2015. Meminta kantong plastik masyarakat untuk ditukarkan dengan t-shirt bag. Selanjutnya dinamai Aksi Jambret Sampah atau BERISIK (Berhenti Pakai Sampah Plastik).

Kegiatan BERISIK terus dilaksanakan diantaranya pada Januari dan Mei 2016, juga pada Mei dan Maret 2017. Selain di Anjungan, relawan Earth Hour sempat melakukan aksinya di Palu Grand Mall dan Carrefour Palu.

Komunitas Peduliku melakukan kampanye pakai tumblr pada bulan Februari dan Maret 2017. Peduliku menyediakan galon untuk pengisian tumblr gratis bagi mereka yang sedang berolahraga di Vatulemo.

Daur Ulang Sampah

Komunitas Peduliku melakukan aksi pengumpulan botol plastik untuk didaur ulang menjadi vertical garden. Proyek pertamanya di Jl Sigma pada Mei 2016 dan di Besusu Barat pada Januari 2017. Sedangkan Komunitas Earth Hour mengadakan kegiatan Earth Hour Berbagi yang berisikan kegiatan daur ulang kertas bekas menjadi paper bag bersama anak-anak Panti Asuhan Al-Fattah pada Juni 2016.

Komunitas Baju Kertasku pada Desember 2017 membuat program Paper School dan melakukan Mini Workshop pertamanaya pada Desember 2017. Kegiatan tersebut merupakan kelas belajar mendaur ulang kertas bekas berbasis sociopreneurship.

Aksi Pungut Sampah

Pengumpulan Kertas Bekas oleh Komunitas Baju Kertasku berlangsung sejak Maret 2016. Hingga tahun 2017, sekitar 5 ton kertas berhasil dikumpulkan dari mahasiswa, siswa, kantor, kampus, dan sekolah. Sampah kertas yang terkumpul dijual ke pengepul lalu uangnya dibelikan baju seragam sekolah dan baju lebaran bagi anak-anak yang membutuhkan.

Komunitas Turun Tangan Palu merupakan salah satu pelopor gerakan kerja bakti pungut sampah di sepanjang Pantai Talise, sebuah area ikonik Kota Palu yang sering dipenuhi oleh sampah. Aksi pertama Turun Tangan Palu bernama Aksi Bersih Pesisir Teluk Palu pada September 2016. Dilanjutkan dengan Aksi Pungut Sampah Massal memperigati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di bulan Februari dan Gerakan Palu Bersih di bulan Mei 2017.

Komunitas Earth Hour melakukan Aksi Bersih memperingati hari sampah nasional pada November 2015, kemudian Aksi Bersih Mantantimali Montain Trip di bulan dan tahun yang sama. Selanjutnya ada Gerimis (gerakan ringan memilah sampah) pada Desember dan Januari 2016, serta kegiatan Goes Morning dan Aksi Bersih di Kampung Nelayan pada Januari 2016.

Komunitas Green Generation melakukan aksinya di kampus benama Campus in Action di FMIPA Untad pada September 2015. Meskipun sudah ada Unit Pekerja Teknis dari kampus yang bertanggung jawab terhadap kebersihan, tapi tak menghalangi Green Generation untuk peduli terhadap lingkungan, karena sejatinya, kebersihan adalah tanggung jawab bersama.

Beberapa aksi pungut sampah sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh satu komunitas saja, tapi merupakan kegiatan kolaborasi yang bahkan bukan dari komunitas lingkungan juga turut bergabung, seperti komunitas olahraga, organsasi mahasiswa, bahkan fans club. Salah satu kegiatan kolaborasi yang ramai diikuti berbagai komunitas adalah kegiatan Indonesia Clean Up Day pada Oktober 2017.

Kampanye Lingkungan

Anjungan Talise merupakan tempat yang strategis untuk menyuarakan tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat yang ramai berdatangan di hari minggu. Beberapa kampanye yang telah dilakukan oleh berbagai komunitas lingkungan antara lain:

1. Global Climate March (November 2015)

Perubahan iklim global (Global Climate Change) merupakan malapetaka yang akan datang. Hal tersebut disebabkan oleh manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak, dan gas bumi.

Global Climate mengakibatkan mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching, dan gelombang badai besar. Dampak paling besar terjadi di Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.

2. Kampanye Lingkungan di Talise (Januari 2016)

Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat mengakibatkan tingkat konsumsi masyarakat juga bertambah banyak. Hal ini memberi kontribusi langsung pada meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi oleh upaya penanggulangannya. Hal ini menyebabkan banyak terjadi permasalahan lingkungan hidup. Sebut saja linkungan menjadi kotor dan merebaknya penyakit.

Beberapa langkah untuk menanggulangi permasalahan sampah tersebut di antaranya, Penerapan prinsip 4R: replace (mengganti), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang), serta membuang sampah secara terpisah antara oraganik dan anorganik sehingga mempermudah pengelolaannya.

3. Sosialisasi Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Mei 2016)

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet Bumi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan instrumen penting yang digunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia.

Hari peringatan ini dipandang sebagai kesempatan bagi semua orang untuk menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

4. Kampanye Jambore Bebas Sampah (Agustus 2016)

Jambore Bebas Sampah 2020 merupakan bagian dari usaha jangka panjang yang menjadi wadah berkumpulnya seluruh Penggerak yang peduli terhadap persoalan sampah di Indonesia demi tercapainya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Untuk pertama kalinya Jambore Bebas Sampah 2020 dilaksanakan pada tanggal 2-4 September 2016 di Kota Solo, saat itu terkumpul 374 relawan dari 22 Provinsi di Indonesia.

Seluruh elemen masyarakat dan penggiat persampahan sangat diharapkan bisa berpartisipasi dalam Jambore Bebas Sampah setiap tahunnya, karena permasalahan lingkungan di Indonesia perlu didiskusikan dan gerakan bersama untuk mencari solusinya. Volume sampah di Indonesia terus bertambah akibat dari kebutuhan dan aktivitas manusia, inilah yang akan menjadi sasaran dalam Jambore Bebas Sampah 2020.

5. Aksi Cabut Paku Pohon memperingati Hari Pohon Sedunia (November 2016)

Hari Pohon Sedunia, diperingati setiap 21 November. Tanggal ini dipilih untuk  menghormati jasa-jasa J Sterling Morton pada 1872, seorang pecinta alam dari Amerika. Ia sangat gigih mengkampanyekan gerakan menanam pohon.

Tujuan Hari Pohon yaitu mengingatkan manusia akan pentingnya pohon bagi kehidupan makhluk hidup lainnya. untuk memerangi pemanasan global, mencegah banjir, tanah longsor, tempat hidup fauna (burung) dan membuat iklim mikro yang baik.

6. Earth Day Collaboration di SMAN 9 Palu (April 2017)

Hari Bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 seorang pengajar lingkungan hidup.  Kini hari bumi diperingati di lebih dari 175 negara dan dikordinasi secara global oleh Jaringan Hari Bumi (Earth Day Network).

7. THRWBCK : Kampanye Gaya Hidup Hijau (Januari 2017)

Gaya Hidup Hijau adalah sebuah gaya hidup yang didasarkan pada kesadaran untuk menjaga lingkungan. Contohnya kebiasaan menggunakan kantung plastik menunjukkan bahwa masyarakat belum memasukkan unsur lingkungan dalam keseharian.

Plastik memang mempermudah manusia, tetapi ada efek negatifnya terhadap lingkungan. Semua benda berbahan plastik membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat terurai dan kalaupun bisa terurai, hasilnya akan meracuni tanah.

8. Earth Hour 2015, 2016, dan 2017 setiap tanggal 24 Maret

Earth Hour (Jam Bumi) adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

Kegiatan yang dicetuskan WWF dan Leo Burnett ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007. Saat itu, 2,2 juta penduduk Sydney berpartisipasi dengan memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan. Setelah Sydney, beberapa kota di seluruh dunia ikut berpartisipasi pada Earth Hour tahun-tahun berikutnya, termasuk Kota Palu.

Sosialisasi Lingkungan ke Sekolah

Komunitas Green Generation melakukan kunjungan ke sokalah sejak Maret 2015. Sekolah yang menjadi kunjungan pertama adalah SMP Al-Azhar Palu. Kemudian berlanjut ke sekolah-sekolah lainnya bahkan sampai sekolah di luar Kota. Pada Januari 2017 Green Generation menyambangi SMAN 3 Palu. Setiap sekolah yang didatangi dilakukan pembentukan pengurus Green Generation Sekolah.

Komunitas Earth Hour mengawali kegiatan sosialisasi bertajuk Green Education di SMP Al-Azhar Mandiri pada November 2015 kemudian berubah nama menjadi Earth Hour Goes to School yang diselenggarakan ke SMA Katolik Palu, SMAN 4 Palu, SMP Alkhairat, MTsn Palu Barat sepanjang bulan Januari 2016 dan Februari 2017.

No comments: