Memancing Ilmu di Kolam Pemancingan Nunu - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Memancing Ilmu di Kolam Pemancingan Nunu



Sore itu di Kolam Pemancingan Nunu, orang-orang datang tak hanya untuk mencari ikan atau melihat buaya berjemur di sungai sebelahnya. Tujuh komunitas berkolaborasi mengadakan kegiatan lapak baca dan diskusi buku. Komunitas tersebut ialah Nemu Buku, Taman Baca Pelita, Rumah Hutan Drupadi, Lingkar Pemuda Tolis, Backpacker Literasi, serta Sharing & Learning Forum.

Diskusi buku yang diadakan membahas buku berjudul ‘Orang Kaili Gelisah’ bersama penulisnya Jamrin Abubakar dan Ketua Komunitas Historia Sulawesi Tengah Moh Herianto. Sekitar 20 orang menghadiri diskusi ini − saya salah satunya − selebihnya menikmati sajian buku bacaan gratis di lapak baca.

Saya bertugas membawa buku yang akan dipajang di pinggiran kolam pemancingan. Saya membawanya dengan motor pustaka keliling. Ada sekitar 30-an judul buku yang saya bawa dari Nemu Buku. Buku-buku lainnya dibawa oleh kawan-kawan dari Komunitas Backpacker Literasi, Lingkar Pemuda Tolis, dan Taman Baca Pelita.

Emperan jalan samping kolam pemancingan penuh dengan hamparan buku-buku. Ada novel, buku puisi, cerpen, buku non fiksi, hingga buku anak-anak.

Hal yang paling membahagiakan dari aktifitas lapak baca adalah melihat banyak anak menghampiri lapak dan membaca buku yang mereka sukai. Beberapa kawan relawan ditugasi untuk mendampingi anak-anak yang datang.

Melihat antusiasme anak-anak yang singgah di setiap rutinitas lapak baca yang saya lakukan membuat saya berpikir bahwa betapa jahatnya ibu mereka ketika mengetahui anak-anaknya suka membaca namun tidak difasilitasi buku bacaan di rumahnya. Toh kalau tidak punya uang atau malas membeli buku, bisa datang kapan pun di perpustakaan maupun lapak-lapak baca yang rutin diadakan oleh para pegiat literasi di Kota Palu.

Hal yang membahagiakan selanjutnya adalah melihat bapak-bapak yang perawakannya seperti pekerja kasar atau kuli tapi tertarik dengan buku-buku yang dipajang. Itu membuktikan bahwa aktifitas membaca bukan hanya milik kaum cendekia. Siapapun, dengan latar belakang apapun, membaca seharusnya menjadi kewajiban dan hobi yang menyenangkan.

Kegiatan literasi di Nunu adalah pertama kalinya, setelah sebelumnya sering diadakan di Lapangan Vatulemo dan Anjungan Nusantara setiap hari minggu sore. Meskipun sekarang kami mengagendakan kegiatan itu menjadi dua minggu sekali, tapi Taman Baca Pelita dan Backpacker Literasi tetap rutin menggelar aksinya seminggu sekali di Anjungan Nusantara dan Baywalk Citra Land.

Diskusi buku adalah rangkaian acara dalam aktivitas lapak baca. Diskusi berlangsung seru. Saya sempat terperanjat dengan fakta-fakta sejarah yang disampaikan oleh Kak Jamrin dan Kak Anto selaku orang Kaili yang menyampaikan kegelisahannya.

Kalian pasti akan terperanjat pula ketika mengetahui Raja Moili yang sekarang dijadikan sebagai nama jalan, bahkan Kaili sebagai nama suku merupakan penyebutan yang keliru. Bahkan sempat dibongkar latar sejarah konflik antara orang Biromaru dan Dolo yang masih berdampak sampai sekarang. Konon, kisah itu sebenarnya pamali untuk diceritakan karena akan menyulut dendam lama yang turun-temurun berusaha diredam.

Dari sekian banyak kegelisahan itu, justru yang paling memprihatinkan adalah ancaman punahnya bahasa Kaili. Kita ketahui bersama bahwa bahasa Kaili merupakan salah satu bahasa yang paling kaya dengan berbagai cabang bahasa dan dialeknya. Kehilangan bahasa merupakan kehilangan jati diri lokalitas yang dapat berimbas pada rekonstruksi sosial di tanah Kaili.

Kamaimo Kita Mombaca!


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: