Kenali Hoax dan Tingkatkan Literasi Digital - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Kenali Hoax dan Tingkatkan Literasi Digital


Nyaris setiap detik ada satu berita baru. Betapa sangat tenggalamnya kita ke dalam lautan informasi. Dari sekian banyak berita tersebut, ada berapa banyak yang hoaks? Tugas pers bukanlah menyebarkan prasangka tapi justru melenyapkannya. Bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikaskan saling pengertian.

Tempo Institue mengadakan kegiatan Tempo Goes To Campus di Universitas Tadulako bekerjasama dengan Perhimpunan Pers Mahasiswa Dewan Kota Palu. Kegiatan tersebut berisikan workshop tentang penggunaan internet atau media sosial secara bijak dengan tema ‘Lawan Kabar Kibul’.

Pembicara dalam kegiatan tersebut merupakan perwakilan dari Majalah Tempo, ICT Watch, dan Yukepo. Berikut poin bahasannya:

Ayo Kenali Hoaks!

Kabar kibul atau hoaks adalah informasi yang tidak benar tapi dibuat seolah-olah benar. Kadang-kadang memiliki fakta-fakta pendukung yang memanipulasi. Dalam jurnalistik, kabar kibul disebut sebagai berita palsu karena bagi jurnalis, berita adalah peristiwa dan karena dia peristiwa maka dia tidak bisa dipalsukan.

Karena sudah sangat masifnya berita tentang hoaks, Dewan Pers menyampaikan beberapa ciri berita hoaks. Ciri-cirinya yaitu mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan, kemudian sumber berita tidak jelas, menyembunyikan fakta dan data, serta penggunaan berlebihan huruf kapital, huruf tebal, tanda baca dengan maksud untuk menarik perhatian.

Junalisme seharusnya bukan untuk mematikan atau mencibirkan bibir, juga tak bemaksud untuk menjilat atau menghamba. Yang memberinya komando bukanlah kekuasaan atau uang tetapi niat baik, sikap adil, dan akal sehat.

Bila bertemu kabar hoaks meskipun itu sesuai dengan selera, harus dicek dulu, apa sesuai dengan faktanya. Bila itu hoaks, jangan dibagikan meskipun itu sesuai dengan selera kita.

Salah satu alasan kenapa hoaks banyak beredar di sosial media adalah tingkat literasi yang masih rendah di Indonesia. Menurut hasil survey 2017, Indonesia menempati urutan tingkat literasi kedua paling bawah dari 61 negara.

Salah satu penyebabnya adalah karena kebanyakan orang langsung spontan memberikan komentar, reaksi, dan membagikan berita-berita dengan judul yang menarik tanpa membaca kesuluruhan isi berita atau mempersandingkannya dengan fakta dari berita yang lain.

Motif penyebaran hoaks bermacam-macam, diantaranya karena uang (untuk mencari traffic web, pemasaran, promosi, dll), ideologi (mengalahkan lawan, Pilkada, Pemilu, dll), kebencian (iri, beda pendapat, dan lain-lain), dan iseng (ego, ingin diakui, dll).

Tips Bermedia Sosial

Komunikasi menurut pakar terdiri dari bahasa tubuh 55%, suara atau intonasi 38%, dan kata-kata 7%, jadi di dalam komunikasi media sosial ada 93% aspek yang tidak terlihat. Hal tersebut sering menimbulkan kesalahpahaman berkomunikasi yang berujung pada perdebatan dan akhirnya saling hujat.

Media sosial juga mengenal istilah yang namanya persekusi atau main hakim sendiri, memfonis, atau memburu seseorang atau golongan tertentu. Persekusi adalah tindakan yang melawan hukum. Persekusi sebenarnya merupakan tindakan offline yang dibawa-bawa hingga ranah di dunia online. Cara melawan persekusi bisa dengan mengirimkan aduan ke antipersekusi@gmail.com.

UU ITE yang mengatur penggunaan media sosial kadang banyak disalahgunakan orang yang 'Baper' terhadap postingan orang lain yang membuatnya tersinggung. Namun siapapun dapat membela diri dari penyalahgunaan UU ITE apabila postingan yang dibuat ditujukan untuk kepentingan umum, untuk membela diri, dan untuk mengungkapkan kebenaran.

Apabila kita melihat konten negatif di media sosial, bisa langsung melapor ke www.adukonten.id. Kita juga bisa melaporkan konten yang sebenarnya tidak layak tampil di Youtube ke alamat email info@ictwatch.id.

Mari Melawan Hoaks!

Bagi yang muslim, MUI telah mengeluarkan fatwa tentang 5 ujaran haram yang tidak boleh disebarkan di media sosial, yaitu fitnah, ujaran kebencian atas dasar SARA, informasi bohong (hoaks), materi pornografi, serta materi yang tidak sesuai tempat dan waktunya.

Resep untuk melawan kabar kibul adalah dengan melakukan cek dan ricek, atau memverfikasi suatu informasi. Kemudian bersikap skeptis atau meragukan informasi, ingin tahu, dan kritis atau tajam menganalisa.

Solusi selanjutnya yaitu dengan menggunakan prinsip What, Where, When, Who, Why, dan How (5W+1H). Ceklah sebuah informasi apakah terdapat unsur 5W+1H di dalamnya. Kemudian bagikan berita hoaks yang kita temukan tersebut dengan memberikan deskripsi bahwa itu adalah hoaks agar orang lain tahu.

Karena kita semua pada dasarnya adalah jurnalisme warga atau citizen journalism, usahakan ketika ingin menyampaikan suatu peristiwa, sampaikanlah dengan memasukkan unsur 5 W+1 H agar pembaca mendapatkan informasi yang lengkap dan kredibel.

Hoaks juga berarti informasi sepotong. Informasi yang tidak memenuhi unsur 5W+1H atau fakta yang ditunjukkan tidak sesuai antara tempat dan waktunya. Penanggulangan hoaks dapat didekati dengan metode edukasi di awal, pendampingan di tengah, dan baru penegakkan hukum di akhir.

No comments: