Hari Bumi Internasional Bukan Ajang Ceremonial Saja - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Hari Bumi Internasional Bukan Ajang Ceremonial Saja


Ide menanam mangrove di Jembatan Merah Talise awalnya hanya terinspirasi dari sebuah foto yang dikirim seorang teman via grup whatsapp. Kemudian hal itu disambut baik oleh teman-teman grup yang notabene merupakan teman-teman dari berbagai komunitas. Gerakan itu kemudian dirangkaikan bersamaan dengan peringatan hari bumi internasional.

Saya kemudian melakukan berbagai arahan, mulai dari permohonan bibit mangrove ke Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, melakukan perizinan lokasi ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, mengambil berbagai konsep less waste event dari berbagai referensi, dan mengajak seluruh komunitas yang diharap dapat membantu jalannya kegiatan ini.

Hari Bumi seharusnya bukan sekedar peringatan setahun sekali, tetapi upaya untuk menyayangi bumi setiap hari. Bumi selalu berkontribusi sangat besar bagi kehidupan kita, mulai dari oksigen, keteduhan, sumber daya alam, pemandangan, dan lain-lain. Sudah seharusnya kita sebagai makhluk yang menumpang di bumi harus menjaga dan merawat tempat tinggal kita. Salah satunya dengan berkontribusi melestarikan pesisir pantai Talise.

Komunitas Seangle atau Sea Angle (sudut laut) bersama komunitas Baju Kertasku, Peduliku, Hidropoik Kota Palu, KPA Vinculum, Kaca Mata Outdoor, Sahabat Pulau Palu, EDSA/TBI IAIN Palu, Ketawa Bersama, Purnapati Magic Sulawesi Tengah, HIPPMA Bungku Barat, Shoot and Art Community, dan Anak Muda Punya Foundation.

Kemudian ada Sekolah Alam Dongi-dongi, Earth Hour Palu, Komunitas IKA Untad Bahasa Inggris, Bersama Tulus Berbagi, Learn English Together, Levata Pondo, UKPM Fkip Untad, Rumah Bahari Gemilang, dan lainnya, menginisiasi kampanye masif untuk kembali memberi teguran ke manusia agar menjaga bumi.

Komunitas-komunitas tersebut berkolaborasi mempersiapkan kegiatan mulai dari pembuatan kursi dari botol-botol bekas, stand-stand komunitas, eco-sharing, dan lain-lain. Mini Eco-festival dilaksanakan sabtu malam tanggal 21 April di area Kampung Kaili. Eco-sharing diisi oleh 3 narasumber yaitu Smith sebagai Ketua Gerakan Gali Gasa, Ipank selaku koordinator Hidroponik Kota Palu, dan Koko dari Walhi Sulteng.

Kami juga mengadakan pertunjukan puisi lingkungan yang dibawakan oleh teman-teman Komunitas Malam Puisi Palu dan ditutup dengan pertunjukkan sulap oleh teman-teman Purnapati Magic Sulawesi Tengah.

Tepat tanggal 22 April, hari minggu pagi diadakan penanaman mangrove massal di area anjungan jembatan merah. Lebih dari 150 orang bergabung bersama menanam 300 bibit mangrove yang disediakan langsung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah.

Saya berharap, label generasi instan yang melekat pada pemuda saat ini tidak ada di dalam diri para penanam-penanam mangrove kemarin. Karena mangrove yang telah ditanam harus dikontrol selama minimal 2 sampai 6 bulan kedepan agar bisa dipastikan hidup, tumbuh, dan menjaga keindahan pantai.


Penulis : Reny Septiani

No comments: