Perjuangan Anak Pedalaman Suku Lauje Untuk Bersekolah - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Perjuangan Anak Pedalaman Suku Lauje Untuk Bersekolah

Foto dari mongabay.com

Salah satu pengalaman saya yang paling berkesan selama bekercimpung di komunitas sosial adalah ketika melakukan survey adat, pendidikan, dan kesehatan ke masyarakat Desa Pebounang, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong. Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi Mahasiswa Pecinta Alam Santigi Universitas Tadulako, Komunitas Sahabat Pulau, dan Komunitas Mo Sikola.

Sekolah Dasar Negeri Terpencil (SDNT) Penesangkang Pebounang merupakan salah satu lokasi tujuan kami. Sekolah yang terdiri dari siswa aktif sejumlah 152 orang itu hanya sampai kelas 5 dan hanya memiliki 3 orang tenaga pengajar, kepala sekolah yang berstatus PNS dan dua orang tenaga honorer.

Ada cerita perjuangan hadir dari setiap langkah kaki para murid menuju ke sekolah. Mereka harus berjalan bertelanjang kaki menempuh jarak kurang lebih 1 km. Rela bersentuhan dengan panas serta tajamnya batu kerikil di sepajang jalan. Belum lagi harus keluar masuk hutan di pagi hari untuk sekadar datang ke sekolah lebih awal.

Semangat anak-anak untuk pergi ke sekolah tidak diragukan lagi. Ada tidaknya guru, mereka tetap setia menanti hingga waktu pulang tiba. Mereka bukan hanya butuh infrakstruktur, namun mereka juga butuh guru yang bisa menetap di tempat mereka untuk mengajar. Guru mereka kadang datang, kadang juga tidak.

Pagi hari di ketinggian 900 mdpl, anak-anak Suku Lauje di Desa Pebounang berharap agar guru mereka datang hari ini ke sekolah. Pukul 09.00, saya dan kawan-kawan menemani mereka pergi ke sekolah. Setibahnya di sekolah, kami tidak melihat satupun guru di sana.

Rasa kekecewaan terlihat jelas dari raut wajah mereka. Salah seorang warga berkata, “sebenarnya kami kecewa dengan tenaga pengajar di sini tapi apa boleh buat, kami tidak tau harus berbuat apa. Mungkin faktor jarak dari desa menuju sekolah yang cukup jauh sehingga guru mereka jarang datang dan sering lambat.”

Jangankan untuk bersekolah layak atau mendapatkan infratruktur yang memadai, buku dan alat tulis pun masih ada sebagian dari mereka yang belum punya, dan hampir seluruh siswanya tidak memiliki sepatu dan tas. Tak jarang kaki mereka terkelupas dan buku yang dipakai sehari-hari untuk belajar hilang tercecer kala mereka pulang atau beraktivitas di luar sekolah.

Selain SDNT Penesangkang, masih ada sekolah dasar lainnya yakni SDNT Pebounang dengan jumlah siswa sedikit lebih banyak. Kondisi mereka sedikit lebih baik karena lebih dekat dengan perkampungan. Saya salut dengan SDNT Pebounang karena ternyata, murid-murid di sana banyak yang menjuarai kegiatan ekstrakulikuler seperti voli, takraw, dan pramuka di tingkat SD se-Kecamatan Palasa.

Namun sedihnya, banyak dari mereka yang terpaksa berhenti sekolah untuk bekerja karena sulitnya akses transportasi untuk lanjut ke SMP. Mereka harus turun ke daerah ibu kota kecamatan, ditambah lagi kondisi ekonomi yang masih dibawah rata-rata. Keadaan makin diperburuk oleh lingkungan dan budaya sosial mereka yang lebih memilih menikah di usia dini.

Saya dan kawan-kawan hanya bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, mencoba untuk akrab dan mengajak mereka untuk bermain bersama di dalam kelas. Tepuk semangat, tepuk anak baik, dan tepuk kasih sayang, itulah yang menjadi keunggulan kami untuk mengakrabkan diri.

Selain itu, kami juga mengajak mereka menyanyikan lagu ‘kepala pundak lutut kaki’. Meskipun sedikit sulit untuk berkomunikasi karena mereka menggunakan Bahasa Lauje. Agar mereka tertarik bernyanyi, maka lagu tersebut kami ganti dengan bahasa mereka, menjadi seperti ini :

Ba i Dodompa Tu u Bibis Tu u Bibis

Tuli Mata Enge Pampailan

Ba i Dodompa Tu u Bibis Tu u Bibis.

Setelah kegiatan bermain di kelas selesai, seorang teman yang menjadi penerjemah bilang kepada kami bahwa apa yang diajarkan tadi akan selalu diingat dan akan menjadi bahan bermain mereka. Usaha kami tidak akan pernah berhenti, kita terus maju dan bertindak ikhlas bersama-sama membantu menciptakan pendidikan yang berkualitas, utamanya bagi mereka yang tertinggal.


Penulis : Zikran

No comments: