Menjadi Pustakawan Tak Sebosan yang Kau Bayangkan - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Menjadi Pustakawan Tak Sebosan yang Kau Bayangkan



Membaca buku tebal dengan tulisan padat tanpa gambar bagi sebagian orang terasa membosankan. Apalagi harus setiap hari berada di rak buku-buku tersebut. Mendata dan melayani peminjaman. Membosankan? Tidak juga!

Bagi pecinta buku hal tersebut sangat menggairahkan. Bahkan bagi yang tidak suka baca buku pun bisa menjadi hal yang menyenangkan. Menjadi pustakawan adalah ajang berkenalan dengan buku-buku.

Tidak semua buku penuh dengan teori yang membuat mata mengantuk. Banyak sekali buku-buku asyik yang mungkin belum berjodoh dengan pembacanya.

Perpustakaan Mini Nemu Buku di Jl. Tururuka buka jam 4 sore hingga jam 11 malam. Kadang saya melayani peminjaman di luar jam kerja. Bukan karena tidak disiplin waktu, tapi karena sebagian peminjam biasanya sibuk atau rumahnya jauh. Ia rela menyempatkan diri ke Nemu Buku untuk meminjam atau sekedar memperpanjang waktu pinjamnya.

Saya selalu berjaga di meja pustakawan menunggu dan mengawasi para anggota perpustakaan yang datang. Sambil menunggu, saya dan teman pustawakawan lainnya biasanya melakukan pendataan buku. Kadang saya juga mengisi waktu dengan menulis dan berselancar di internet.

Tidak ada paksaan berapa minimal buku yang harus saya data perhari, yang penting ada dan konsisten dikerjakan. Tapi normalnya saya bisa mendata 10 - 20 buku per hari. Setiap bulan Nemu Buku pasti punya buku baru yang harus didata, entah itu dari donasi ataupun dibeli.

Proses pendataan itulah yang membuat saya makin mengenal buku. Setiap buku harus diketahui siapa pengarangnya (tak sekedar namanya), penerbitnya, sinopsinya, kode buku, tahun terbit, hingga jumlah halamannya.

Kemudian saya harus mengelompokkoan buku-buku berdasarkan genrenya, fiksi atau non fiksi. Kalau buku fiksi ditata berdasarkan huruf awal nama penulisnya, sedangkan buku non fiksi dikelompokkan berdasarkan topik bahasannya.

Tak jarang saat sedang mengelompokkan buku, saya terhenti di buku tertentu karena tertarik dan membacanya sebentar, lalu saya tandai. Ketika selesai didata, buku itulah yang menjadi bahan bacaan saya.

Oh iya, jangan anggap semua relawan literasi khususnya saya sebagai pustakawan adalah penggila buku. Jangan kira mentang-mentang sering beraktivitas dengan buku lantas saya sudah membaca semua buku yang ada.

Kita mungkin sama, tidak semua buku saya baca sampai selesai. Saya juga bukan tipe pembaca novel tebal, meskipun rekan saya sesama pustakawan adalah maniak buku. Ia bisa membaca buku setebal kitab suci hanya dalam waktu 3 hari. Namun menurut saya, membaca bukan soal seberapa banyak buku yang dibaca tapi seberapa banyak ilmu dari buku yang bisa diterapkan.


Penulis : Muadz Al Banna

No comments: