Kondisi Pak Lili, Pemulung Kota Palu yang Anaknya Menderita Penyakit Kusta - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Kondisi Pak Lili, Pemulung Kota Palu yang Anaknya Menderita Penyakit Kusta


Pak Lili Bin Rojai, beliau adalah pemulung usia renta yang sudah beberapa hari ini kelaparan karena terbaring sakit sehingga tak bisa memulung. Beliau juga masih harus menanggung satu orang anaknya penderita kusta yang tinggal bersamanya di Jl. Panglima Polem, Besusu, Palu Timur.

Kemarin, foto Pak Lili beredar di media sosial. Terlihat kondisinya tengah terbaring sakit dan kelaparan. Tubuhnya terbaring diatas pembaringan yang sangat tidak layak bagi orangtua renta seperti beliau.

Melihat foto Pak Lili membuat air mata saya terus berjatuhan sepanjang malam. Bayangkan saja, seorang bapak tua sakit, kelaparan, kedinginan, dan tidak ada yang peduli.

Saya bersama kawan-kawan dari Korps HMI Wati (KOHATI) Komisariat FISIP Untad berinisiatif mengunjungi rumah beliau, setelah sebelumnya kami menggalang donasi. Alhamdulillah, di luar dugaan, banyak orang baik yang mau membantu Pak Lili.

Uang yang terkumpul kami belikan sembako dan obat-obatan. Kemudian kami bergegas mengunjungi rumah Pak Lili pada malam harinya.

Dibalik rumah yang cukup bagus bangunannya, lirikan kami jatuh kepada gerobak kayu tua yang terparkir di samping halaman rumah itu. Rumah Pak Lili berada di sampingnya. Saya dan kawan-kawan berjalanan masuk. Selepas hujan siang tadi, halaman rumahnya berair dan sedikit becek.

Saya memberi salam, tapi tak ada balasan suara dari dalam. Saya mengintip dari balik papan samping rumah. Saya menemukan Pak Lili tengah tertidur lelap.

Saya akhirnya masuk dan langsung duduk di samping beliau, berusaha membangunkannya. Beberapa kali saya panggil namanya, namun belum juga ia terbangun. Kemudian saya pegang tangannya dan mengelus lengannya, mencoba membangunkannya dengan sopan.

Alhamdulillah beliau membuka mata dan bangun. Pandangannya sedikit kabur, lalu memberikan senyuman kepada kami yang datang. Kami bersalaman satu persatu dengan beliau.

Saat tengah bersalaman, saya menangis. Padahal ketika di depan pintu, saya sudah mewanti-wanti diri saya dan kawan-kawan supaya jangan sekalipun menampakkan wajah kasihan di hadapan Pak Lili. Tapi alhasil, saya gagal.

Saya langsung membalikkan badan, menundukkan kepala, dan menutup rapat mulut saya dengan tangan agar suara tangis saya tak pecah. Kawan-kawan saya yang lain kemudian ikut menangis. Tangisan kami saling sahut-menyahut. Kami tak kuasa membendung air mata melihat kondisi Pak Lili dengan baju lusuh, tempat tidur beralas papan, dan rumah berlantai tanah.

Anaknya berada di dalam. Ia menderita sakit kusta sehingga kami tak bisa melihatnya. Bapak Lili pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan pendengarannya terganggu. Bapak mengatakan bahwa Ia selalu sakit, pun ketika sedang sehat, peyakitnya sering kambuh. Kami tak bisa bertanya banyak, sebab Pak Lilii tak bisa menjawab dengan jelas.

Saya sempat memijat kaki bapak, sebab ia mengeluh sakit di bagian kaki dan betisnya. Kami semua memijat bapak sambil mendengarkan ceritanya. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada kami karena telah berkunjung.

Perjalanan kali ini membuka mata saya tentang bagaimana semestinya kita bersyukur dan bersabar atas kesulitan yang kita alami. Sebab di tengah-tengah hidangan mewah yang kita santap, pakaian bagus dan riasan wajah yang indah, fasilitas pendidikan dan pekerjaan yang menunjang karier kita ke depan, orang tua yang lengkap dan mencintai kita, sahabat yang selalu ada dan merangkul kita, masih sangat banyak saudara di sekeliling kita yang tidak pernah kita tahu bahwa mereka tidak seberuntung kita.

Saya bersyukur bukan karena tidak merasakan kesusahan hidup dari segi materi seperti mereka. Tetapi saya bersyukur sebab dibalik semua kelemahan dan kekurangan saya, saya masih bisa berbagi dan berada di samping mereka.


Penulis: Nur Safitri R. Lasibani

No comments: