Inilah Alasan Kenapa Kita Harus Membantu Perpustakaan Sekolah - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Inilah Alasan Kenapa Kita Harus Membantu Perpustakaan Sekolah

 
SDN 2 Bulu Pountu, Sigi Biromaru belum memiliki bangunan fisik perpusatakaan sekolah. Pihak sekolah pernah dua kali memohon kepada pihak Perpustakaan Daerah Kabupaten Sigi untuk meminta bantuan buku, namun belum ada tanggapan. Beberapa upaya lain akhirnya dilakukan oleh pihak sekolah untuk menyediakan buku seadaanya.

Beberapa koleksi buku bacaan yang dimiliki sekolah halamannya hampir lepas. Guru di sekolah itu bilang bahwa minat baca murid-murid di sekolahnya sebenarnya sangat tinggi, tapi keterbatasan buku dan tenaga pengelolanya yang menjadi kendala.

Sejak bulan Februari 2018, sebuah Motor Pustaka Keliling hasil dari program hibah Perpustakaan Nasional resmi menjadi tunggangan saya dan teman-teman di Nemu Buku. Motor Pustaka ini juga bisa diakses oleh siapa saja yang ingin berkegiatan dengan buku.

Tidak menunggu lama, rencana untuk membawa buku berkeliling dengan Motor Pustaka ini telah saya siapkan. “Jangkauan buku yang dibawa harus lebih jauh,” ujar Kak Neni, pendiri Nemu Buku. Kalimat singkat, padat, namun mampu membakar semangat. Memang biasanya saya lebih sering melakukan kegiatan yang berkutat di dalam Kota Palu saja.

Sasaran sudah saya tentukan, SDN Bolu Pountu di Desa Oluboju, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Saya memacu Motor Pustaka menempuh perjalanan ke Oluboju, kurang lebih satu jam. Ini sudah termasuk jalan non-aspal yang harus saya lalui dengan sedikit lebih sulit karena muatan buku membuat beban motor yang saya bawa menjadi agak berat.

Sesampainya di sana, Motor Pustaka saya parkir di halaman sekolah. Nampak gagah dengan warna merah mentereng lengkap dengan kotak tempat buku di bagian belakangnya. Tak lama berselang, murid-murid di sekolah itu mulai keluar kelas satu per satu.

Seorang murid laki-laki seperti mencoba menebak-nebak siapa saya. “Ih, ada yang jualan buku woy!” katanya sedikit keras kepada teman-temannya. Saya spontan tertawa. Masa tulisan cukup besar di bagian Motor yang menandakan Perpustakaan Keliling tidak terlihat?!

Seorang guru laki-laki yang menyambut saya juga mengira saya adalah penjual buku keliling. Namun kali ini saya tak berani tertawa, perawakan guru tersebut membuat saya ciut. Tinggi, besar, dan berkumis lumayan tebal dengan suaranya yang dalam, begitu kira-kira. Katanya, beberapa kali penjual buku keliling memang pernah mampir ke sekolah, makanya dikira penjual buku.

Obrolan saya buka dengan perkenalan dan menyampaikan maksud saya membawa buku, bukan untuk menjual buku, apalagi menawarkan bisnis MLM ke guru-guru. Saya pun menanyakan kondisi perpustakaan sekolah. Bapak tampang garang itu pun bercerita tentang kondisi perpustakaan sekolahnya.

Menurut saya, jika saja sekolah ini punya banyak buku-buku bagus dan dikelola dengan baik, atau setidaknya banyak komunitas yang mau melaksanakan gerakan literasi sekolah, pasti bisa membuat para murid menjadi senang dan tak terbelakang.


Penulis : Fauzy Ahmad

No comments: