Sulteng Darurat Narkoba, Parigi Menjadi Daerah Pengguna Terbanyak - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Sulteng Darurat Narkoba, Parigi Menjadi Daerah Pengguna Terbanyak



Sulawesi Tengah (Sulteng) merupakan peringkat ke-15 pengguna Narkotika terbesar se-Indonesia. Mirisnya, penduduk Sulawesi Tengah yang berjumlah sekitar 2 juta lebih saja, jika dibandingkan dengan Lampung yang jumlah penduduknya sekitar 6-7 juta namun menempati peringkat ke-33, ini membuktikan bagaimana parahnya kondisi Sulteng saat ini.

Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Suteng menggelar Dialog Publik bertema “Mewujudkan Generasi Muda Sulteng yang Cerdas dan Berkarakter Tanpa Narkoba”. Kegiatan ini diisi oleh pembicara dari Polda, Dinas Kesehatan, dan BNN Provinsi, serta dihadiri puluhan pemuda dan mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan. Berikut pembahasannya :

Kondisi Terkini Peredaran Narkoba di Sulteng

Untuk skala Sulteng, peringkat pengguna narkoba terbanyak adalah Kabupaten Parigi Moutong, kedua Kota Palu, dan Ketiga Tolitoli. Tahun 2016 dan 2017, Polda Sulteng telah mengungkap barang bukti untuk sabu sebesar 30,65 Kg yang merupakan jenis narkoba yang paling banyak masuk ke Sulteng.

Distribusi narkoba biasanya melalui bandar udara, pelabuhan yang tidak resmi, dan dari jalur darat, yaitu dari jasa travel atau rental. Modusnya bisa dengan cara menyelipkan di sepatu atau sandal atau dibungkus dalam dompet.

Sesuai amanat dari UU tentang Narkotika, dibutuhkan peran serta masyarakat dalam memerangi narkoba. Polisi tidak bisa berkerja sendirian. Bantuan dari masyarakat sangat dibutuhkan, terutama tokoh-tokoh masyarakat, dan juga bantuan dari instansi lain.

Sebagai pemakai, ancaman sanksi yang bisa diberikan adalah 4 tahun penjara dan membayar denda. Kemudian bagi yang menyimpan narkoba, sanksinya 12 tahun penjara dan denda 800 juta hingga 8 milyar. Apabila sampai menjadi pengedar, apalagi kalau yang dijual sampai berkilo-kilo, sanksinya bisa dihukum mati.

Kebanyakan Korbannya Adalah Pemuda dan Remaja

Tahun 2016 Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Kepolisian Daerah (Polda) melakukan tes urine ke beberapa sekolah di Kota Palu. Hasilnya, sebanyakk 759 siswa terbukti menggunakan narkoba. Sedangkan di Sigi, melalui metode sampling di salah satu SMK, dari 50 orang anak yang dites, ada 21 terindikasi mengkonsumsi sabu murni.

Siswa yang suka mengkonsumsi Lem Fox cenderung menginginkan hal yang lebih sehingga mudah terjerumus sebagai pengguna narkoba. Apalagi bandar narkoba bisanya melakukan reproduksi pecandu, yaitu dengan membagikan narkoba secara gratis kepada remaja dan anak-anak. Berharap mereka menjadi pembeli dan pelanggan selanjutnya.

Faktor-faktor yang bisanya mempengaruhi penyalahgunaan narkoba ialah faktor lingkungan pertemanan dan keluarga. Memilih lingkungan pertemanan yang baik dan peran serta keluarga sangat dibutuhkan.

Selain merusak masa depan, narkoba pertama kali akan merusak kesehatan. Karena narkoba menyerang sistem syaraf pusat, maka yang akan terpengaruh adalah otak dan organ-organ dalam, seperti hati dan ginjal. Salah satu efeknya membuat seseorang jadi malas makan, hingga berat badannya menurun drastis.

Cara Penanganan Kasus Narkoba

Dalam ilmu kesehatan, narkoba diistilahkan sebagai NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Narkotika berfungsi sebagai zat penenang atau penidur. Psikotropika sebaliknya, merupakan zat perangsang syaraf. Orang bisa tidak tidur sampai 2 hari bila mengkonsumsinya. Sedangkan zat adiktif adalah zat yang membuat seseorang menjadi ketergantungan.

Dinas kesehatan berperan dalam menangani kasus penyalahgunaan narkoba dengan cara membangun Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Seseorang yang terjerat narkoba, bila ia melapor ke BNN atau Polisi, maka akan masuk ke ranah hukum, tapi kalau melapor ke IPWL, maka akan masuk ke ranah masalah kesehatan. IPWL membuka ruang rehabilitasi dan menghindarkan dari jeratan hukum.

Dinas kesehatan penyiapkan beberapa tempat layanan IPWL, di antaranya RS. Madani, RS. Anatapura, dan RS. Bhayangkara. Dalam perjalanannnya, IPWL tidak terlalu diminati oleh masyarakat, oleh karena itu Dinkes menyiapkan Puskesmas di kabupaten-kabupaten sebagai pintu masuk pelaporan dan penanganan korban penyalahgunaan narkoba ini.

Narkoba adalah bisnis nomor 3 paling menguntungkan di dunia di bawah bisnis senjata dan prostitusi. Oleh karenanya, peredarannya rapi dan terorganisir. Ini jadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda Indonesia, khususnya bagi generasi penerus di Sulawesi Tengah.

No comments: