Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Santigi Memicu Penderitaan Petani - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Santigi Memicu Penderitaan Petani



Rencana pemulihan ekosistem Suaka Margasatwa Tanjung Santigi berimplikasi pada penyingkiran petani-petani yang berproduksi di Desa Bolano, Kecamatan Bolano-Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong yang berbatasan langsung dengan Desa Santigi dalam kawasan konservasi. Hal tersebut berpotensi menjadi konflik agraria.

Kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Santigi terdapat di Desa Santigi Kecamatan Lambunu Kabupaten Parigi Moutong. Merupakan salah satu kawasan seluas 1.502 ha yang memiliki berbagai keanekaragaman jenis satwa seperti buaya, burung gosong, burung dara laut, raja udang kalung putih, elang laut, biawak, dan berbagai jenis satwa lainnya.

Sekitar 90-an kepala keluarga yang menggantungkan hajat hidupnya pada lahan produksi pertanian seluas 445.56 ha harus rela dijadikan sebagai lahan pemulihan ekosistem Suaka Margasatwa dari total lahan 669.94 ha yang dipulihkan.

Proses pemulihan ini berakhir dengan adanya penutupan lahan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulteng dengan dalih meningkatkan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan habitat flora dan fauna, sesuai sosialisasi Balai KSDA Sulteng pada tahun 2017 kepada Masyarakat Bolano.

Cita-cita keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945 seakan semakin jauh dari hadapan Masyarakat Kecamatan Bolano. Terlepas dari masalah ketidaksejahteraan hidupnya sebagai petani, mereka dikonfrontasikan lagi dengan masalah yang lebih pelik.

Potensi hilangnya akses petani terhadap tanah garapannya bisa menghasilkan efek domino, yaitu terjadinya ketimpangan ekonomi dan merembes pada ketidakadilan di wilayah penghidupan para petani.

Pada posisi ini pemerintah harusnya bijak dalam pembagian dan penetapan lahan konservasi, agar tidak menambah deretan kasus agraria di Indonesia. Proses konservasi memang bertujuan baik yaitu menjaga kelestarian alam, namun jangan sampai mengesampingkan aspek keadilan sosialnya juga.

Menjaga kelestarian alam merupakan hal yang penting serta merupakan tanggung jawab bersama. Penentuan lahan konservasi seharusnya melibatkan peran masyarakat dalam perencanaannya.

Konservasi seringkali menyingkirkan orang-orang yang berada di kawasan konservasi. Bahkan secara semena-mena menghilangkan aksesnya terhadap lahan-lahan pertanian yang menjadi penghidupannya selama bertahun-tahun.

Negara merupakan payung hukum tertinggi dalam menjamin terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Kehadiran negara penting untuk memberikan kepastian dan jaminan hidup bagi seluruh warga negaranya. Tidak hanya itu, negara pun dituntut mampu memberikan keadilan sesuai dengan amanat UUD, di mana kekayaan alam adalah milik negara dan dikelola demi kemakmuran rakyatnya.

Lalu di mana tanggung jawab negara saat petani Balano menderita?



Penulis: Mirza, S.Kom

No comments: