Palu Kota Destinasi? Salah Branding, Bos! - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Palu Kota Destinasi? Salah Branding, Bos!

Gambar dari palu-kota.muhammadiyah.or.id

Apa julukan yang tepat bagi Kota Palu? Jogja terkenal dengan julukan kota pelajar. Ribuan pelajar dari berbagai daerah menjadikan Jogja sebagai tempat tujuan bergengsi untuk belajar. Salah satu universitas negeri disana pun menjelma menjadi kampus terbaik. 

Tangerang dijuluki kota 1000 industri. Di sana merupakan pusat industri dan manufaktur di pulau Jawa yang memiliki lebih dari 1000 pabrik penopang industri ibu kota. Pulau Bali terkenal dengan julukan sebagai ‘Pulau Dewata’ karena kentalnya budaya Hindu, seperti banyaknya sesaji yang dipersembahkan untuk dewata penjaga di berbagai tempat di Bali.

Di sisi lain ada berbagai julukan Kota yang unik, antara lain Sumedang : Kota Tahu, Indramayu : Kota Mangga, Cirebon : Kota Udang, hingga Trenggalek: Kota Keripik Tempe. Kemudian ada juga julukan Kota yang terkesan wow seperti, Pasuruan: Kota Santri, Bekasi: Kota Patriot, dan Pati: Kota Pensiunan. 

Ada beberapa kota yang menyandang julukan yang sama sebagai Kota Wisata, yaitu Kota Batu, Rembang, Kebumen, termasuk Bali. Sejak 2016 lalu, Donggala pun ikut-ikutan menjuluki dirinya Kota Wisata.

Perbincangan saya di warung kopi pada suatu malam ditutup dengan sebuah info tentang isu Pemkot Palu yang tengah melabelkan (memberikan brand) Kota Palu. Dalam perjalanan pulang, saya jadi berpikir keras. Apakah Kota Palu akan dijuluki Kota Somay Bakar? Berhubung akhir-akhir ini banyak penjual somay bakar menjamur di kota ini.

Sepertinya, Pemkot kebingungan untuk menentukan brand kota ini, berhubung berbagai julukan untuk Kota Palu kerap diistilahkan sepihak oleh masyarakat. Beberapa julukan itu seperti Bumi Tadulako, Kota Teluk, Kota Lima Dimensi, Kota Kelor, hingga Kota Kaledo. 

Apakah faedahnya misalnya kita mengambil Kota Kelor sebagai brand kota? Apakah kemudian daun kelor bisa menjadi komoditi ekspor sehingga menumbuhkan ekonomi masyarakat? Kan tidak. Ataukah julukan kota hanya menjadi istilah yang sesuai keadaan geografis kota? Kalau begitu saya akan juluki Palu sebagai Kota Napane, alias Kota Dua Matahari.

Saking bingungnya Pemkot, akhirnya lewat Festival Nomoni yang sebelumnya bernama festival Teluk Palu, Walikota mendeklarasikan Kota Palu sebagai Kota Mutiara di Khatulistiwa. Dalih Wali Kota, awalnya julukan tersebut datang dari Bung Karno, setelah berkunjung ke Palu pertama kali.

Dalam teori ekonomi, setidaknya kota memiliki dua keunggulan yang bisa dijadikan brand dan acuan pengembangan ekonomi. Satu keunggulan absolutnya, dua keunggulan khasnya. Apa nilai ekonomi di Kota Palu yang tidak dimiliki kota lain? Atau apa produk khas daerah yang menjadi ciri khas kuat Kota Palu? Masa Kota Bawang Goreng?

Akhir-akhir ini, isu yang berkembang bahwa Wali Kota menggembar-gemborkan julukan Kota Palu sebagai Kota Destinasi, lalu bagaimana inkonsistensi ini tercipta? Mungkin maknanya sama dengan Kota Mutiara di Khatulistwa, tapi penggunaan istilah yang berbeda mencirikan Kota Palu masih miskin identitas. 

Destinasi, dari segi bahasa berarti tempat tujuan. Faktanya Kota Palu hanya menjadi tempat persinggahan wisatawan dari Taman Nasional Bunaken Sulawesi Utara, Togean Tojo Una-Una, ke Toraja Sulawesi Selatan, atau sebaliknya.

Lalu, diberi julukan apa kota ini sebaiknya?


Penulis: Muadz Al Banna

No comments: