Nasib Masa Depan Tukang Parkir - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Nasib Masa Depan Tukang Parkir

Gambar dari kaskus.co.id
Masyarakat sering resah dengan fenomena tukang parkir liar di Kota Palu. Ironisnya, tukang parkir sering meminta jatah di lokasi ATM dan di depan masjid. Sekilas bila ditelaah penghasilan sebagai tukang parkir ini omsetnya lumayan. Apalagi kalau ada kegiatan besar yang mengumpulkan banyak orang atau pada hari sebelum hari raya pada beberapa Department Store, penghasilan tukang parkir akan melunjak. 

Tahun 2017, Panitia Ospek Untad berhasil mengantongi Rp.4000 per motor dari 9000 mahasiswa baru yang parkir selama dua hari untuk mengkuti kegiatan Ospek. Tiga puluh dua juta adalah hitung-hitungan kotor berdasarkan itu. Mengabaikan mahasiswa baru yang diantar orang tuanya dan yang datang berboncengan dengan temannya.

Tukang parkir juga bermacam jenisnya, ada yang bekerja musiman bila ada kegiatan-kegiatan tertentu, dan ada juga yang profesional.  Tukang parkir seperti ini sering dijumpai di pasar. Ada yang masih muda, ada juga yang sudah tua, ada ibu-ibu dan ada juga yang masih anak-anak. Tidak harus memiliki kriteria usia.

Teman saya pernah bercerita tentang tukang parkir dan pelayan cafe. Alkisah hiduplah dua orang teman yang bekerja sebagai pelayan cafe. Kerjanya membuat kopi dan mengantarkannya ke pelanggan. 

Salah seorang dari mereka mengeluh, katanya dia capek karena kerja banyak tapi gaji kecil. Akhirnya ia mengundurkan diri, kemudian alih profesi menjadi tukang parkir. Ternyata menjadi tukang parkir kerjanya santai dan penghasilannya lumayan. Sedangkan temannya yang satu tetap menjadi pelayan cafe.

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya si pelayan cafe tadi bisa membuka usaha kedai kopinya sendiri berbekal ilmu dari profesinya yang dulu, sedangkan si tukang parkir penghasilannya banyak, tapi begitu-begitu saja. Sampai akhirnya si pemilik kedai bisa buka cabang dimana-dimana lalu menikmati hari tuanya dengan tenang, sedangkan si tukan parkir akhirnya menderita karena sudah tidak kuat lagi menjalani pekerjaannya.

Hikmahnya : Jangan jadi tukang parkir! Yaiyalah, tukang parkir menurut saya adalah pekerjaan yang diambil karena keterbatasan pilihan. Mungkin tukang parkir bisa dijadikan pekerjaan sementara, cuma kebanyakan orang akhirnya keenakan karena penghasilan yang menjanjikan. Miris!

Namun dari kisah di atas saya jadi banyak merenung bila ketemu tukang parkir, terutama bila mereka adalah pria tua renta yang sudah punya puluhan tahun pengalaman profesional sebagai juru parkir. Bagaimana saat mereka sudah sakit-sakitan? Apakah Dishub memberikan fasilitas layanan BPJS?

Menurut survey Grup Facebook Info Kota Palu, layanan parkir adalah salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan warga, setelah begal dan LPG 3 Kg. Selain menuntut aturan yang tegas soal tarif parkir dan tukang parkir liar, nasib masa depan tukang parkir juga tak boleh luput dari perhatian. 

Bagaimana dengan bisnis perparkiran di tahun 2018? Saya harap para tukang parkir sudah punya resolusinya.


Penulis: Muadz Al Banna

No comments: