Kisah Si Udin, Pencuri Helm Kota Palu yang Terekam CCTV - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Kisah Si Udin, Pencuri Helm Kota Palu yang Terekam CCTV

Ilustrasi dari poskotanews.com
Penduduk miskin Kota Palu berdasarkan data terakhir berjumlah 26 ribu orang. Biaya pendidikan yang mahal, tidak adanya kesempatan, jaringan dan koneksi membuat kriminalitas menjadi salah satu cara yang diambil untuk bertahan hidup.

Desakan ekonomi dan biaya hidup yang tinggi menyebabkan angka kemiskinan di perkotaan sangat tinggi. Kemiskinan dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu seseorang atau individu tidak memiliki penghasilan tetap, tidak memiliki pekerjaan tetap, atau  kekurangan sandang, pangan, dan papan. Andai berpenghasilan pun, penghasilannya dibawah 25 ribu/hari.

Udin menjadikan aktivitas mencuri helm sebagai pekerjaan sampingan. Pencurian bisa dilakukan dimana saja asal ada kesempatan. Namun biasanya di daerah Ruko yang tidak ada tukang parkirnya agar lebih mudah.

Helm hasil curiannya bisa laku sekitar Rp60.000 - Rp150.000, tergantung dari kondisi, merek, dan banyaknya peminat. Biasanya ia menjual barang curiannya langsung ke penadah alasannya lebih aman. 

Para penadah sendiri menerima helm hasil curian dari orang-orang yang sudah dikenal saja. Tetapi tidak semua penadah langsung menjual helm hasil tadahan nya. Biasanya dia menyuruh orang lain untuk menjadi penjual. Tapi helm yang dijual tidak selalu dari hasil curian, adakalanya helm yang dijual merupakan hasil tukar tambah orang.

Dalam beroperasi, Udin biasanya mengajak satu orang teman. Ia yang mengambil helm, temannya yang menunggu di motor dengan tujuan lebih cepat untuk kabur. Pencurian dilakukan dengan menarik paksa, menggunting, atau memotong tali helm menggunakan gunting atau silet.

Rasa takut di dada Udin selalu ada, ketahuan pun pernah dialami saat menjalankan aksinya, akan tetapi himpitan ekonomi yang dialami membuat Udin tidak kunjung jera. Tapi tidak semua pencuri helm seperti Udin, ada juga pencuri helm yang dilatarbelakangi karena sebelumnya helmnya juga pernah hilang dicuri.

Latar belakang lain pencurian helm juga karena suka dengan jenis helm orang lain. Pencuri helm tersebut biasanya tidak benar-benar mengambil melainkan hanya menukarnya dengan helm lain yang lebih jelek.

Nah, orang-orang biasanya suka membeli helm second murah, padahal bisa jadi itu merupakan helm hasil curian. Menurut aturan, membeli helm curian, walaupun tanpa mengetahui barang tersebut merupakan barang curian, sudah dianggap sebagai penadah dan bisa diberi sanksi pidana.

Menurut keterangan polisi, kasus pencurian helm memang jarang dilaporkan oleh masyarakat. Kasus pencurian helm biasanya diselesaikan oleh pihak keamanan atau security di tempat kejadian. Penyebabnya karena orang malas mengikuti proses hukum yang memakan waktu. Misalkan saja sampai ke tingkat pengadilan, maka akan dipanggil kembali dalam rangkaian proses hukum. Itulah yang membuat pencurian helm seolah tidak tersentuh polisi.

Fenomena pencurian helm yang marak namun seolah luput dari mata hukum menjadi sebuah mata pencaharian baru bagi orang-orang yang gigih mempertahankan hidup, atau sekedar menambah uang jajan. Sedikitnya resiko untuk ditindaklanjuti oleh aparat, kurangnya minat masyarakat untuk mempermasalahkannya, membuat hubungan antara kemiskinan dan tindak kriminal ini semakin hari kian erat.



Penulis: Muadz Al Banna

1 comment:

Mhalik A Parilele said...

Helm yang dicuri harganya dikisaran 200-an ribu. Sementara kalau mau diurus melalui jalur hukum, kadang butuh biaya yg lbih bnyak, waktu bnyak terbuang.

Sdah bnyak yg dikorbankan, eh ujung-ujungnya helem tidak kembali juga. Makanya bikin malas orang berurusan dengan kepolisian. Bukan apa-apa, karena mengurus prosedur kehilangan jauh lebih mengecewakan dan menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri.