Alasan Kenapa Film Kaili Tidak Laku - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Alasan Kenapa Film Kaili Tidak Laku


Film Kaili merugi setelah sebulan diputar di Palu, beberapa kota di Jawa dan Jakarta. Dari target 100.000 penonton, film tersebut hanya ditonton sebanyak 15.505. Mattuju Pictures bahkan tidak sanggup membayar artis dan krunya. Sesuai kesepakatan, bahwa artis dan kru tidak akan dihonor kecuali Film Kaili melebihi target penonton.

Meskipun ada indikasi kucuran dana dari Pemerintah Daerah sekitar Rp. 500 juta dan sponsorhip, pihak Mattuju Pictures harus menambah sebanyak lebih dari Rp. 900 juta. Film Kaili tidak mencukupi budget produksi film minimal yang normalnya sejumlah Rp. 1,6 miliar.

Para artis dan kru Film Kaili akhirnya pasrah tidak menerima honor mereka. Bahkan sebagian dari mereka sempat kecewa dan merasa ditipu sehingga ingin melakukan somasi dan melaporkan Pihak Mattuju Pictures ke Polisi.

Nah, berikut saya beri tahu 5 alasan kenapa Film Kaili tidak laku :

1. Pembuatannya Tidak Serius, Hanya Sekedar Menerima Tantangan dari Wakil Wali Kota

Sejak awal sebelum Film Kaili diproduksi, Mattuju Picture mendapat tantangan dari Wakil Wali Kota Palu untuk membuat film bergenre lokal. Namun karena tingginya biaya produksi membuat Andi Syahwal dari Mattuju Pictures yang juga producer film Uang Panai ini enggan. Katanya, biaya produksi membuat film itu besar, sehingga ia tidak berani. Jangankan untuk untung, membayar artis dan kru pun pasti tidak bisa.

2. Pembuatan Judul Film dan Desain Cerita yang Kurang Menarik

Kaili dalam film tersebut adalah singkatan dari ‘Karena Aku Ingin Kembali’, jauh dari ekspektasi masyarakat yang mengharapkan kata Kaili tersebut lebih diartikan sebagai suku terbesar di Sulawesi Tengah dimana cerita yang diharapkan kental dengan budaya dan adat khas Kaili, bukan sekedar mengambil latar daerah Kaili.

Cerita yang dikemas oleh Film Kaili lebih berfokus pada cerita cinta dengan konflik adat yang mainstream. Padahal harapannya, seperti film lokal Makassar sebelumnya, Uang Panai dan Silariang, Kaili juga punya tardisi unik yang bisa diangkat, contohnya nilabu - salah satu sanksi hukum adat Kaili bagi pasangan yang ketahuan berzina.

3. Target Penonton yang Tidak Spesifik

Film Uang Panai menargetkan penonton seluruh orang bersuku Bugis di seluruh Indonesia, juga orang-orang di berbagai daerah yang penasaran dengan adat dan budaya Makassar, serta anak-anak mudanya yang sejak lama menjadikan uang panai sebagai bahan lelucon dan candaan mereka.

Film Kaili yang bermakna ganda membuat target penontonnya jadi tidak fokus, di satu sisi ingin menjual kisah perjuangan cinta Fajar dan Senja dalam tema Aku Ingin Kembali, yang berarti menyasar kalangan anak muda umum. Kemudian juga ingin menjual latar adat Kailinya sebagai daya tarik bagi penonton orang asli Kaili. Namun akhirnya keduanya justru gagal karena fokus yang tidak jelas.

4. Pemeran Utama Pria yang Kurang Ganteng

Untuk sebuah drama cinta, tampang pemeran utama pria dan wanita harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) agar menarik minat banyak penonton, hehe. Kegantengan memang relatif, tapi berdasarkan penelitian Doktor Chirs Solomon dari Universitas Kent Inggris bahwa ganteng atau cantik itu ada standar ilmiahnya loh.

Film yang ceritanya tidak terlalu bagus, asalkan pemerannya ganteng dan cantik, punya kemungkinan akan laku di pasaran. Film yang tidak memerlukan pemeran prianya ganteng biasanya merupakan film yang menonjolkan sisi komedi.

5. Bersaing dengan Film Box Office, Annabelle

Ketika sebuah film sudah masuk di pemutaran bioskop nasional, maka mau tidak mau harus bersaing dengan jajaran film nasional bahkan internasional lainnya. Nah, film yang paling mencuri perhatian publik yang bersamaan dengan penayangan Film Kaili adalah Film Annabelle Creation.

Film pada dasarnya adalah industri hiburan. Bila kebanyakan penonton sudah merasa sangat terhibur ketika menonton film Annabelle bersama kekasihnya, lalu buat apa lagi mereka menonton Film Kaili? Pertanyaan ini sangat berpengaruh bagi penonton di luar Kota Palu.



Itulah tadi sejumlah alasan kenapa Film Kaili akhirnya tidak laku. Bagaimana pendapatmu?


Penulis: Muadz Al Banna

1 comment:

Mhalik A Parilele said...

Bemana yg produseri dan sutradarai filmnya bukan orang kaili asli, macam uang panai itu ee. Maka.y tidak terlalu mengena untuk mengangkat karakter 'kaili' itu sendiri. Hehehe