Kisah Guru Inspiratif di Tengah Problema Ketidakmerataan Pendidikan - Komunitaz

Artikel Baru

Komunitaz

Media Gerakan Pemuda

Post Top Ad

Kisah Guru Inspiratif di Tengah Problema Ketidakmerataan Pendidikan


Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia masih saja terjadi, namun itu bukan alasan bagi kita untuk berdiam diri. Komunitas Rumah Bahari Gemilang membuat kegiatan Kita Bercengkrama dalam rangka merayakan Hari Guru Nasional. 

Kegiatan ini mengundang 3 tokoh inspiratif dari Sulawesi Tengah. Inilah poin bahasan penting narasumber yang berhasil Komunitaz liput :

Tentang Komunitas 1000 Guru

Komunitas 1000 Guru adalah komunitas peduli pendidikan daerah pedalaman. Dimana kegiatannya adalah jalan-jalan sambil berbagi ilmu maupun bantuan dalam bentuk barang. Target komunitas ini adalah adik-adik di sekolah dasar.

Komunitas 1000 Guru awalnya merupakan akun inspirasi di Twitter yang kemudian bertransformasi menjadi gerakan pendidikan. Terbentuklah sebuah komunitas pada tahun 2012 lewat kegiatan bernama Travel and Teaching (TNT).

TNT bertujuan untuk mengajak semua kalangan untuk turun langsung dan merasakan bagaimana keadaan sebenarnya di daerah pedalaman. Kemudian bagaimana bisa berkontribusi lewat pendidikan di daerah tersebut.

Tujuan para pendidik dari Komunitas 1000 Guru, bagaimana menumbuhkan motivasi adik-adik untuk giat belajar lewat metode pembelajaran yang menyenangkan. TNT dilakukan selama tiga hari. Dua hari teaching, satu hari traveling.

Saat ini, Komunitas 1000 Guru ada di 35 regional di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Tengah sendiri berdiri pada tahun 2015. Saat ini diketuai oleh Muhammad Irfan Umar.

Tantangan terbesar TNT khususnya untuk wilayah Sulawesi Tengah menurut Irfan adalah infrastruktur jalan dan persoalan bahasa. Sekolah yang biasanya menjadi objek TNT hanya bisa ditempuh dengan kendaraan khusus atau berjalan kaki. Kemudian kadang adik-adik di sana masih tidak tahu Bahasa Indonesia.

1000 guru maksudnya bukan 1000 orang guru, tapi siapapun bisa jadi guru. Karena mendidik adalah tugas wajib bagi siapapun yang merasa terdidik.

Mengabdi Dengan Membuat Sekolah

Ide Yaumil Masri untuk membuat sekolah sudah ada sejak lama, keinginan tersebut memuncak saat ia tidak menyelesaikan kuliahnya. Ia ingin mengubah stigma di masyarakat sekitarnya bahwa ketika tidak selesai kuliah bukan berarti akhir dari segalanya.

Yaumil Masri membuktikan bahwa dengan membuat sekolah, ia dapat berkontribusi membangun pendidikan di lingkungannya menjadi lebih baik. Ia membangun sekolah bernama Sikola Pomore. Sekolah berbasis lingkungan yang mengajarkan anak-anak SD bahasa inggris dan pendidikan  karakter.

Salah satu pencapaian Sikola Pomore yaitu berhasil membangun karakter anak seperti menanamkan sikap berani berkespresi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan sadar akan kebersihan lingkungan.

Pesan dari Yaumil Masri: Jujurlah dengan diri sendiri. Apa bila kita melakukan sesuatu tanpa jujur dengan diri sendiri, maka kita melakukan sesuatu tanpa keikhlasan. Kemudian pulanglah untuk mengembangkan kampung. Bila semua orang yang kuliah di kota tidak pulang dan malah berkarir di kota, siapa yang akan membangun kampung?

Selanjutnya adalah konsisten dengan apa yang diyakini lalu dibuktikan dengan menyelaraskan antara pembicaraan dan perbuatan. Namun tantangannya adalah bagaimana menjaga konsistensi agar virus-virus kebaikan ini tetap menyebar dan akan menciptakan guru-guru tangguh berikutnya.

Kisah Guru di Daerah Pedalaman

Romi Himawan merupakan pemenang penghargaan Guru Inspiratif Kabupaten Donggala 2017. Ia menjadi guru sejak 2005 di daerah terpencil Kabupaten Donggala, tepatnya di SDN Kecil Sisere yang kini berganti nama menjadi SDN 13 Labuan.

Beberapa kendala mengajar di sekolah terpencil antara lain pesta, pasar, dan pekerjaan orang tua murid. Bila ada pesta pernikahan, sekolah terpaksa diliburkan karena para murid tidak datang ke sekolah melainkan menghadiri pesta.

Hari pasar di Labuan 2 kali dalam seminggu, kamis dan minggu. Karena kamis bertepatan dengan hari sekolah dan para murid kebanyakan membantu orang tuanya di pasar, maka sekolah juga terpaksa diliburkan.

Kebanyakan pekerjaan dari orang tua murid adalah pencari rotan di hutan atau berkebun maka biasanya mereka membawa anaknya ikut membantu.
Meskipun demikian, Romi Himawan berhasil membina murid-muridnya hingga berhasil mengikuti olimpiade sains matematika tingkat provinsi di Palu.

Kebanyakan guru lebih memilih ditempatkan di daerah perkotaan atau yang akses jalannya lebih mudah. Kalau begitu, siapa lagi yang mau mendidik anak-anak di daerah terpencil? Hal itulah yang menjadi motivasi bagi Romi Himawan untuk terus mengajar sekaligus membuktikan, bahwa kemampuan siswa dan guru di daerah terpencil tidak kalah bahkan lebih hebat dari kemampuan guru di perkotaan.

Pesan Romi Himawan untuk para calon guru dan siapapun yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan : 

Ada 4 hal yang harus dimiliki oleh guru. Pertama kemampuan Pedagogi: bagaimana cara melihat siswa, bagaimana cara merancang pendidikan, dan cara merancang metode mengajar. Kedua kemampuan sosial: mampu berinteraksi ke sesama guru, kepada siswa, kepada orang tua siswa, maupun dari luar lingkungan sekolah. Ketiga memiliki kepribadian yang baik agar menjadi teladan bagi siswa. Keempat memiliki kemampuan keprofesionalan.

Guru bukan hanya harus bisa mengajar, tapi juga mendidik. Kalau mengajar, semua orang bisa, tapi kalau mendidik, guru pun kadang belum mampu.

No comments: