Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Indonesia dan Kota Palu - Komunitaz

Breaking

Komunitaz

Community Network

Post Top Ad

Kamis, 28 Desember 2017

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Indonesia dan Kota Palu


Pemerkosaan seorang ayah terhadap anaknya sendiri kerap terjadi. Kasus kekerasan terhadap perempuan seolah menjadi hal yang wajar. Namun bagaimana jika kasus tersebut penimpa orang terdekat kita?

Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) mengadakan dialog kemanusiaan, menghadirkan puluhan orang dari berbagai latar belakang. Diantarnaya, mahasiswa Untad dan IAIN, sanggar seni, Komunitas Mosikola, Molibu Inklusi, Gerkatin, Sikola Mombine Institut, Penggerak Muda, media, dan tokoh agama.

Kegiatan dimulai dengan Nonton bareng. Film yang ditonton menceritakan tentang perjuangan pendampingan hukum anak 13 tahun, korban pemerkosaan oleh ayahnya sendiri di Ambon, Maluku. Setelah film usai, dialog pun dimulai. Berikut hasil pembahasan dari dialog tersebut :

Tragedi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Aktivis pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak - pernah mendampingi kasus yang sama di Kota Palu. Seorang anak yang diperkosa oleh ayahnya sendri.

Mereka berhasil memerjuangkan putusan pengadilan dengan vonis hukuman 9 tahun dan denda 60 juta. Butuh perjuangan panjang. Melakukan aksi demonstrasi di setiap sidang untuk mempengaruhi putusan. Berharap hakim bisa berpihak kepada korban.

Kekerasan seksual merupakan kekerasan luar biasa, karena orang yang mengalamainya akan merasakan dampaknya seumur hidup. Bila tidak dipulihkan sejak awal dan tidak ada pendampingan, maka korban bisa berubah menjadi pelaku. Begitulah sudut pandang dari sisi kesehatan mental.

Kampanye-kampanye soal kekerasan perempuan dan anak masih sedikit melibatkan kaum laki-laki, padahal kasus tersebut lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki kepada perempuan. Sebaiknya ada juga program-program kampanye soal kekerasan pererempuan yang menjadikan laki-laki sebagai objek atau sasaran utama.

Peran Agama dalam KDRT

Masalah ketidaksetaraan gender menjadi berat karena merupakan persoalan budaya. Sulit merombak pandangan-pandangan yang sudah ada. Dari sisi perempuan sendiri juga biasanya sudah menganggp hal itu sebagai takdir.

Harus ada peran dari tokoh agama. Dalam pandangan agama Kristen dalam Al-Kitab versi lama - karena ditulisnya pada zaman patriarki - memang lelaki adalah sosok yang terlalu diagung-agungkan sehingga hal itu turun temurun berlaku di dalam pemahaman-pemahaman para pengikutnya. Tetapi bersyukur, dewasa ini sudah banyak tokoh-tokoh agama yang punya pemahaman yang baru terhadap persoalan ini.

Penafsiran Al-Kitab yang memahamkan bahwa laki-laki lebih tinggi levelnya dibanding perempuan, berkaitan dengan kasus kekerasan terhadap perempuan di Papua. Dimana kasus tersebut dialami oleh salah seorang perempuan Papua yang harus bekerja keras, kemudian mendapatkan perlakuan dari suami yang sewenang-wenang.

Peranan tokoh agama pada saat itu harus dipertanyakan. Dalam proses menangani kekerasan perempuan ini, tokoh-tokoh agama harus dilibatkan. Tokoh agama cenderung lebih didengar oleh masyarakat.

Menurut agama Islam wanita ditempatkan di posisi yang mulia. Penempatan wanita ada di posisi tertinggi. Tiga tingkat setelah bapak, sesuai ucapan Nabi Muhammad SAW.

Masalah-Masalah dalam KDRT

Pelecehan seksual biasanya dianggap sebagai aib keluarga sehingga malu untuk dilaporkan, padahal dengan melaporkan justru akan menolong korban. Pernah ada kasus perempuan yang dilecehkan dengan keluarganya sendiri, kemudian kasus itu ditutup rapat-rapat oleh keluarga besarnya. Mereka merasa bahwa itu adalah aib tidak perlu dilaporkan dan cukup diselesaikan dengan kekeluargaan.

Perlu ada edukasi kepada masyarakat bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dalam keluarga itu sebenarnya bukan aib. Hal tersebut merupakan kejadian yang harus ditolong, karena bila terus menerus ditutupi dengan dalih nama baik keluarga, maka akan berdampak negatif pada kesehatan mental korban seumur hidup. Dengan melaporkan kasus tersebut, korban bisa langsung mendapatkan pendampingan.

Pernah juga ada kejadian kekerasan terhadap perempuan di Manado. Keluarganya lambat memberi tahu karena malu. Akhirnya korban lama baru mendapatkan pendampingan, bahkan justru keluarganya lah yang memarahi korban.

Kasus lain di Kota Palu lebih parah lagi. Tentang seorang bapak yang memiliki banyak hutang. Ia harus merelakan isterinya menikah - menjadi istri ketiga Si Pemberi Hutang sebagai tebusan untuk membayar hutangnya. Kemudian sang anak mengalamai gizi buruk dan akhirnya meninggal.

Kekerasan Terhadap Perempuan Difabel

Banyak kasus pemerkosaan yang terjadi pada kaum difabel khususnya tuna rungu, termasuk di Kota Palu. Oleh karena itu Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Runu Indonesia) berjuang untuk mengedukasi kaum perempuan tuna rungu. Mencegah hal itu terjadi dengan menjaga pergaulan dalam keluarga, teman, dan lingkungan.

Ada tuna rungu yang diperkosa oleh keluarganya sendiri. Memang selama ini perempuan tuna rungu masih rentan dan mudah diperdayakan. Banyak kasus pemerkosaan kaum disabilitas yang dilepas oleh Unit PPA Polres karena alasan tidak punya saksi. Seperti dua kasus di Pantoloan.

Gerkatin selama ini bekerjasama dengan SKP-HAM dalam melaksanakan program-programnnya. Gerkatin juga membuka ruang seluas-luasnya untuk siapapun yang ingin membantu dan bekerjasama. Kaum difabel tidak ingin dikasihani, tapi mereka ingin diberdayakan.

Solusi yang Bisa Ditempuh

Ketika perempuan menjadi korban, seharusnya negara memberikan bantuan lanjutan, tak hanya sampai putusan sidang. Hal ini bertujuan agar korban bisa menyembuhkan diri dari trauma. Bagaimana dia berhadaan dengan tubuhnya, serta lingkungannya. Sayangnya, negara baru sampai memikirkan hukum buat pelaku, tapi belum memikirkan apa yang mesti didapatkan oleh korban setelahnya.

Menjelang Bonus Demografi, banyak dari kalangan pelajar yang belum memahami bahaya tentang kasus kekerasan terhadap perempuan. Semua elemen harus berjuang untuk keluar dari kondsi ketidaksetaraan gender ini.

Kebanyakan ibu-ibu di kampung tidak punya akses terhadap pendidikan. Semua akses dan keputusan selalu diambil oleh laki-laki. Dengan penguatan ekonomi dan pemberdayaan perempuan, harapannya para perempuan bisa punya posisi tawar terhadap keputusan dan akses yang sama dengan kaum laki-laki.

Perlu ada advokasi kebijakan di tingkat desa agar pemerintah desa mengalokasikan dana desa untuk membuat program yang menargetkan perempuan. Pengambilan keputusan di rapat dan Musrembang desa semestinya juga harus melibatkan perempuan.

Dalam tingkatan keluarga belajarlah berbagi peran dengan pasangan, dan menghargai kekasih!

Tidak ada komentar: