Project Recycling Center Untuk Tuntaskan Pemasalahan Sampah Kota Palu - Komunitaz

Breaking

Komunitaz

Community Network

Post Top Ad

Kamis, 16 November 2017

Project Recycling Center Untuk Tuntaskan Pemasalahan Sampah Kota Palu


Fakta menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di bantaran sungai Palu senang berenang dan bermain di dekat tumpukan sampah. Seekor buaya bahkan sampai berkalung ban motor di sungai Palu, hal tersebut mengindikasikan bahwa Kota Palu darurat sampah.

Sampah dari sungai yang pada akhirnya bermuara ke laut akan mencemari laut, mengurangi nutrisi ikan yang diberikan ke anak anak, serta merusak dan membunuh ekosistem laut. Sampah-sampah plastik yang biasanya terdiri dari botol plastik, kantong plastik, komponen elektronik, mainan, dan lain sebagainya yang telah dibuang secara sembarangan, maka sudah dapat dipastikan akan menyumbat saluran perairan, mulai dari sungai, danau, dan selokan. 

Plastik yang mencemari laut dapat berubah menjadi mikro bahkan nano plastik sehingga dapat mengganggu pertumbuhan koral. Alasan lainnya mengapa sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah diuraikan.

Ekosistem laut yang terganggu akan mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen dari laut. Penyumbang oksigen terbesar di bumi adalah plankton yang hidup di laut, yaitu menyumbang 80% kebutuhan oksigen di bumi dan sisanya, pohon menyumbang 20% oksigen. Kekurangan suplai oksigen dapat mengakibatkan pemanasan global, iklim cuaca jadi tidak stabil, dan kenaikan permukaan air laut akibat melelehnya es di kutub.

Apabila plankton tanpa sengaja memakan sampah plastik mikro dan tidak bisa mencernanya, maka akan menumpuk di tubuh Plankton. Plankton ini merupakan makanan bagi ikan-ikan dan hewan laut lainnya. Plastik-plastik mikro ini juga akan  terakumulasi di dalam tubuh ikan. Ikan juga tidak bisa mencerna plastik-plastik ini meski berukuran mikro. Dan setelahnya ikan yang telah menjadi makanan pokok manusia mengandung plastik-plastik mikro. Jadi, sampah seperti siklus yang dari manusia dan akan kembali pada manusia sebagai dampaknya.

Dampak lainnya yang diakibatkan oleh sampah sudah mulai terasa. Beberapa kepulauan di Kabupaten Banggai terkena tsunami musiman dan pulau-pulau kecil di sekitarnya akhirnya tenggelam. Apakah masih ingin membiarkan anak-anak dengan bebas bermain di tengah-tengah tumpukan sampah? Apakah rela membiarkan ikan-ikan yang diberikan ke anak-anak tercemar oleh sampah? Dan apakah masih tetap santai melihat orang yang membuang sampah sembarangan?

Melihat hal tersebut, beberapa pemuda Kota Palu membuat tim bernama Seangle. Tim ini berusaha mencarikan solusi atas permasalahan itu dengan membangun sebuah Recycling Center, mereka mengolah sampah-sampah di sekitar Teluk Palu dan sebagai pusat edukasi masyarakat.

Tim Seangle adalah kelompok yang digagas oleh 5 orang pemuda, dua orang diantaranya berasal dari Palu.Tiga anggota tim lainnya berasal dari Manado dan Gorontalo yang juga menyelenggarakan program yang sama di daerahnya. Tim tersebut dibentuk pada kegiatan nasional, Youth Marine Debris Summit (YMDS) di Jakarta. Program Recycling Center ini berhasil dipersentasikan di kegiatan tersebut dan berhasil mendapatkan predikat Best Action Plan.

Detail program di Recycling Center yang akan direalisasikan adalah sebagai berikut :

Rupiah (Rumah Pendidikan Sampah)

Tempat anak-anak mendapatkan pelajaran bahasa inggris dan keterampilan soft skill lainnya. Caranya dengan menukarkan sampah sebagai syarat masuk. Sistem seperti ini secara tidak langsung menumbuhkan karakter anak-anak untuk peduli mengangkut sampah.

Upcycling

Pemberdayaan masyarakat lokal untuk memanfaatkan kresek bekas menjadi produk kerajinan anyaman. Produk ini nantinya akan menjadi industri kreatif yang menghasilkan profit. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi limbah plastik dengan cara mendaur ulang.

Sea School

Edukasi ke anak-anak SD melalui pengadaan kurikulum singkat terkait pemilahan sampah. Kegiatan ini akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di Kota Palu.

Bila proyek tahap awal berhasil dilaksanakan, maka biaya pengembangan proyek selanjutnya akan didanai oleh pihak sponsor YMDS hingga 10 juta. Namun dengan kondisi finansial yang terbatas saat ini, Tim Seangle meminta dukungan dana dari masyarakat Kota Palu sebagai dana operasional awal mereka.

Harapannya semua orang bisa bersama-sama berpartisipasi mewujudkan laut bebas sampah di Kota Palu melalui Project Seangle.  
Untuk mengetahui perkembangan proyek ini, silakan follow akun @instagram seangle_id. Info lebih lanjut silahkan hubungi, Reny : +62 85241406262 (WA).


Tidak ada komentar: