Peran Media dan Pemuda Dalam Sosial Perubahan #3 - Komunitaz

Breaking

Komunitaz

Community Network

Post Top Ad

Minggu, 22 Oktober 2017

Peran Media dan Pemuda Dalam Sosial Perubahan #3



Media, pemuda, dan perubahan sosial merupakan isu sentral mengapa Komunitaz.Com dibuat dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Media dan Pemuda adalah dua hal yang selalu ditagih perannya dalam pembangunan. Komunitaz merangkum keduanya menjadi media pemuda. Bertujuan menggerakkan pikiran untuk melakukan sebuah tindakan perubahan dan pemberdayaan.

Komunitaz.Com launching pada tanggal 28 Oktober 2017 di Palu Grand Mall bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Butuh perjuangan yang tidak mudah sehingga Komunitaz akhirnya bisa sampai di tahap ini. Untuk itu kami ingin sedikit menceritakan latar belakang mengapa Komunitaz.Com hadir dan bertahan mewujudkan visinya.

Latar Belakang Berdirinya Komunitaz.Com 

Ide membuat media komunitas sudah dimulai sejak Oktober 2016. Sudah tepat setahun perjalanan untuk mewujudkan mimpi ini. Ide itu muncul dari hasil pengamatan tentang banyaknya komunitas yang menjamur di Kota Palu namun belum menemukan wadah untuk bertemu dan saling mengenal satu sama lain.

Kami menyadari bahwa komunitas harus berkolaborasi ketimbang berjalan sendiri-sendiri. Sebagai langkah awal, dibuatlah akun instagram bernama @komunitaspalu. Berbulan-bulan kami mengumpulkan data komunitas dan me-repost kegiatan komunitas dari berbagai akun. Kami sendiri kaget ketika mengetahui jumlah komunitas yang lebih banyak dari yang kami perkirakan. Lambat laun, dari akun instagram @komunitaspalu, beberapa komunitas akhirnya mulai mengetahui satu sama lain.

Sejak dibuat bulan Februari 2016, akun @komunitaspalu ternyata langsung menarik minat banyak pengguna instagram. Follower kami naik drastis dari hari-kehari. Kami berkesimpulan bahwa sebenarnya banyak orang yang tertarik dan mengapresiasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh komunitas.

Muadz Al Banna selaku Founder Komunitaz awalnya mengajak 7 orang teman sebagai tim untuk mengembangkan project ini. Namun tim tersebut tidak bertahan lama. Dengan alasannya masing-masing, satu persatu anggota tim akhirnya keluar dari project.

Project Komunitaz sempat dijeda untuk beberapa saat. Hingga Muadz akhirnya merekrut tim baru. Dua orang mahasiswa dari jurusan Teknik Informatika Untad, Ayub Aswad dan Azhar Ayyub. Setelah itu, Muadz mengajak kembali salah satu anggota dari tim lama, Fitri Salim yang merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Untad. Mereka bertigalah yang akhirnya menjadi Co-Founder untuk melanjutkan visi Komunitaz.

Melalui Inkubator Bisnis Teknologi Informasi (IBTI) di bawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tengah, akhirnya Komunitaz bertumbuh dari akun media sosial, menjadi website Komunitaz.Com.

Tim Komunitaz

Tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, izinkan kami memperkenalkan tim pendiri Komunitaz.

Pertama, Muadz Al Banna. Latar belakangnya sebagai Ketua Umum di Lembaga Pers Mahasiswa membuatnya bisa diandalkan dalam hal tulis-menulis. Jaringanya ke banyak jurnalis profesional juga turut menguatkan niatnya untuk berani membuat media yang menurutnya ideal dan inovatif.

Muadz merupakan salah satu orang yang memahami kelemahan media mainstream. Melalui Komunitaz ia ingin menutup kelemahan-kelemahan tersebut dan menciptakan jurnalistik revolusioner yang mengedepankan kedalaman analisis, berimbang, dan populer.

Salah satu produk jurnalistik andalan yang ia inisiasi di dalam Komunitaz adalah laporan notulensi kegiatan dalam bentuk feature. Kebanyakan media menulis pemberitaan suatu kegiatan dari sisi acaranya saja. Padahal menurut Muadz, pembaca tidak hanya mau tahu tentang teknis acara dan sedikit kutipan pembicaraan di dalamnya, tapi  juga pembahasan rincinya, sehingga pembaca bisa mendapat pelajaran dari sebuah kegiatan tanpa datang langsung di kegiatan tersebut.

Muadz mengingkan bahwa informasi seharusnya tak hanya sekedar membuat orang-orang menjadi tahu, tapi juga membuat orang-orang bisa bertindak dari hasil bacaannya itu.

Kedua, Fitri Salim. Muadz mengajak Fitri bergabung bukan tanpa alasan. Fitri yang merupakan mantan Ketua Himpunan di jurusannya hingga saat ini aktif pada berbagai kegiatan kepemudaan. Di antaranya aktif sebagai relawan Komunitas Mosikola, Pengurus Paguyuban Yayasan Salemba Empat, dan Alumni Ekspedisi Nusantara Jaya. Bila Muadz yang mempertanggungjawabkan Komunitaz dari sisi medianya, maka Fitri  yang bertanggung jawab dari sisi kepemudaanya.

Fitri untuk ke depannya juga bertanggung jawab sebagai project manager, dimana akan banyak event-event keren yang akan dibuat untuk memasifkan gerakan media, baik online maupun offline.

Ketiga, Azhar Ayyub.  Asisten dosen jurusan Teknik Informatika Untad ini merupakan Founder dari BaCoding.Net – sebuah jasa layanan developer IT. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan saat ini berprofesi sebagai guru komputer di SMA Al-Azhar Palu. Di tengah kesibukannya itu, Azhar tetap berkomitmen untuk bersama-sama mengembangkan Startup Komunitaz bersama tim lainnya.

Keempat, Ayub Aswad. Salah satu mahasiswa terbaik Teknik Informatika Untad ini sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan. Meskipun tergolong yang termuda dalam tim Komunitaz, tapi skill programing-nya tidak diragukan lagi. Baru-baru ini ia mewakili Untad mengikuti kompetisi Augmented Reality di Semarang.

Ayub merupakan programmer yang memiliki keahlian kompleks. Mulai dari developer web hingga mobile dan beberapa bahasa pemograman serta desain.

Kelima, Kalian. Iya, kalian! Tanpa kalian, Para Pemuda Kota Palu, berbagai Komunitas, Dukungan Pemerintah, dan Investor, Komunitaz akan sulit berkembang. Komunitaz adalah media kolaborasi, jadi kerja sama dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.

Keempat Founder yang telah kami jelaskan di atas hanyalah formalitas dan pemicu gerakan besar ini. Yaitu gerakan mewujudkan pemerintahan terbuka, dimana seluruh elemen masyarakar turut berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan komunitas sebagai motor penggeraknya.