Cerita Rakyat : Matinya Sang Tadulako - Komunitaz

Breaking

Komunitaz

Community Network

Post Top Ad

Jumat, 27 Oktober 2017

Cerita Rakyat : Matinya Sang Tadulako


Cerita ini adalah hasil dokumentasi dari Jamrin Abubakar pada tahun 2013. Cerita ini ditulis dalam bukunya dengan judul yang sama. Pada buku yang merupakan buku kumpulan cerita rakyat tersebut juga memuat 11 kisah lainnya. Berikut ringkasan cerita rakyat Matinya Sang Tadulako :

Ngimpu dan istrinya tinggal di perkampungan Doda, Lembah Bahoa arah utara lembah Bada. Sudah bertahun-tahun mereka tidak dikaruniai anak. Namun setelah memohon kepada Dewata, di usia yang sudah renta, isteri Ngimpu akhirnya dapat melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Lengkatuwo yang berarti hidup sempurna.

Ketika itu sering terjadi perang antar suku. Semenjak kecil Lengkatuwo selalu diajari oleh-oleh ayahnya tentang ilmu perang. Setiap laki-laki di desa wajib ikut perang demi mempertahankan desanya dari serangan suku-suku selatan Tanah Lore.

Kehebatan Lengkatuwo di medan perang mendapat pengakuan dari masyarakat desanya. Pemuka-pemuka adat akhirnya memberikan gelar Tadulako kepadanya - yang berarti teladan, terpuji, dan terdepan dalam memimpin setiap kegiatan, termasuk perang.

Kehebatan Tadulako akhirnya tersebar ke berbagai kampung sehingga ia diundang oleh Suku Bada untuk membantu memenangkan perang melawan orang-orang dari Waebunta. Akhirnya pasukan Waebunta kalah sehingga raja Waebunta datang ke Bada untuk melakukan perjanjian damai.

Perdamaian itu membuat orang-orang Bada sangat berutang budi, sehingga menawarkan agar Tadulako menetap di Bada untuk dikawinkan dengan seorang putri cantik. Tadulako menolak karena sebelum datang ke Bada, ia telah diberi pesan oleh ibunya untuk menikah dengan tunangannya yang ada di desanya setelah pulang dari perang. Namun karena tidak enak hati dengan paksaan orang-orang Suku Bada, maka Tadulako akhirnya bersedia menikah dengan putri cantik dari Suku Bada tersebut.

Sekian lama keluarga dan masyarakat desa menunggu kedatangan Tadulako, akhirnya Tadulako pulang bersama isterinya yang sudah hamil. Hal tersebut menuai kekecewaan mendalam pada keluarga Tadulako dan kekasihnya di desa.

Beberapa hari kemudian, nasib nahas tidak bisa dielakkan. Ketika Sang Tadulako mendatangi kekasih lama yang kebetulan sedang menumbuk padi dengan lesung batu di halaman rumah, tiba-tiba saja sang kekasih menghujamkan alu ke kepala Sang Tadulako.

Tadulako yang dikenal sakti, seketika itu roboh ke tanah dan tidak sempat mengelak. Penduduk kampung Besoa gempar. Sebab ahli perang yang tidak mudah ditaklukan lawan-lawannya di medan tempur, akhirnya mati di tangan seorang wanita, kekasih yang dikhianati cintanya.

Sang Tadulako betul-betul mati tragis. Meskipun demikian tragis, jasa-jasanya menyatukan suku-suku yang dulunya bertikai yang kemudian membentuk kekerabatan, Tadulako tetap dikenang. Bahkan hingga kini istilah Tadulako begitu popular di Sulawesi Tengah sebagai sebutan bagi siapa saja yang memiliki sifat kepemimpinan atau ksatria.

Karakter baik:
· Ngimpu dan Istrinya
· Lengkawuto (Tadulako)

Karakter tidak baik:
· Lengkawuto (Tadulako)

Pesan moral:
· Jangan terlena dengan kehebatan, kelebihan, dan kekuatan
· Jangan mengecewakan orang tua
· Jangan mengkhianati cinta dan terlena dengan kecantikan wanita lain
· Setiap manusia memiliki sifat baik dan sifat buruk
· Jasa yang besar akan dikenang sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Post Top Ad

Kolom Iklan